Travel
Performance
‹
›
Cute
My Place
Slider
Racing
Videos
Cerita Seks Ngentot Sama Saudara Tiriku 1 - Cerita ini akan kuceritakan kali ini seputar pengalaman cerita sex yang aku alami bersama dengan saudara tiriku. Sebelum aku ber cerita seks
dan cerita sex ini dimulai perkenalkan terlebih dahulu namaku Ben.
Ceritaku ini dimulai, waktu aku SMA kelas 3, waktu itu aku baru sebulan
tinggal sama ayah tiriku. Ibu menikah dengan orang ini karena karena
tidak tahan hidup menjanda lama-lama. Yang aku tidak sangka-sangka
ternyata ayah tiriku punya 2 anak cewek yang keren dan seksi habis, yang
satu sekolahnya sama denganku, namanya Lusi dan yang satunya lagi sudah
kuliah, namanya Riri. Si Lusi cocok sekali kalau dijadikan bintang
iklan obat pembentuk tubuh, nah kalau si Riri paling cocok untuk iklan
BH sama suplemen payudara.
Sejak pertama aku
tinggal, aku selalu berangan-angan bahwa dapat memiliki mereka, tapi
angan-angan itu selalu buyar oleh berbagai hal. Dan siang ini kebetulan
tidak ada orang di rumah selain aku dengan Lusi, ini juga aku sedang
kecapaian karena baru pulang sekolah. “Lus! entar kalau ada perlu sama
aku, aku ada di kamar,” teriakku dari kamar. Aku mulai menyalakan
komputerku dan karena aku sedang suntuk, aku mulai dech surfing ke
situs-situs porno kesayanganku, tapi enggak lama kemudian Lusi masuk ke
kamar sambil bawa buku, kelihatannya dia mau tanya pelajaran. “Ben,
kemaren kamu udah nyatet Biologi belom, aku pinjem dong!” katanya dengan
suara manja. Tanpa memperdulikan komputerku yang sedang memutar film BF
via internet, aku mengambilkan dia buku di rak bukuku yang jaraknya
lumayan jauh dengan komputerku.
“Lus..! nich bukunya, kemarenan aku udah nyatet,” kataku.
Lusi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku.
“Lus.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu.
“Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Lusi.
“Eeh… kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku.
“Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang.
Lusi tidak memperhatikanku tapi malah memperhatikan film BF yang sedang di komputerku.
“Lus.. kamu bengong aja!” kataku pura-pura tidak tahu.
“Eh.. iya, Ben kamu nyetel apa tuh! aku bilangin bonyok loh!” kata Lusi.
“Eeh… kamu barusan kan juga liat, aku tau kamu suka juga kan,” balas aku.
“Mending kita nonton sama-sama, tenang aja aku tutup mulut kok,” ajakku berusaha mencari peluang.
“Bener nich, kamu kagak bilang?” katanya ragu.
“Suwer dech!” kataku sambil mengambilkan dia kursi.
Lusi mulai serius menonton tiap adegan, sedangkan aku serius untuk terus menatap tubuhnya.
“Lus, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.
“Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya.
Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga.
“Kalau ML?” tanyaku lagi.
“Belom,” katanya, “Tapi… kalo sendiri sich sering.”
Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.
“Lus, sebelum ini kamu pernah nonton bokep kagak?” tanyaku.
“Pernah, noh aku punya VCD-nya,” jawabnya.
Wah gila juga nich cewek, diam-diam nakal juga.
“Kalau ML?” tanyaku lagi.
“Belom,” katanya, “Tapi… kalo sendiri sich sering.”
Wah makin berani saja aku, yang ada dalam pikiranku sekarang cuma ML sama dia. Bagaimana caranya si “Beni Junior” bisa puas, tidak peduli saudara tiri, yang penting nafsuku hilang.
Melihat dadanya yang naik-turun karena terangsang, aku jadi semakin terangsang, dan batang kemaluanku pun makin tambah tegang.
“Lus, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.
“Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.
“Eh… ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.
“Kasihanilah si Beni kecil,” kataku.
“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.
“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.
“Lus, kamu terangsang yach, ampe napsu gitu nontonnya,” tanyaku memancing.
“Iya nic Ben, bentar yach aku ke kamar mandi dulu,” katanya.
“Eh… ngapain ke kamar mandi, nih liat!” kataku menunjuk ke arah celanaku.
“Kasihanilah si Beni kecil,” kataku.
“Pikiran kamu jangan yang tidak-tidak dech,” katanya sambil meninggalkan kamarku.
“Tenang aja, rumah kan lagi sepi, aku tutup mulut dech,” kataku memancing.
Dan
ternyata tidak ia gubris, bahkan terus berjalan ke kamar mandi sambil
tangan kanannya meremas-remas buah dadanya dan tangan kirinya
menggosok-gosok kemaluannya, dan hal inilah yang membuatku tidak
menyerah. Kukejar terus dia, dan sesaat sebelum masuk kamar mandi,
kutarik tangannya, kupegang kepalanya lalu kemudian langsung kucium
bibirnya. Sesaat ia menolak tapi kemudian ia pasrah, bahkan menikmati
setiap permainan lidahku. “Kau akan aku berikan pengalaman yang paling
memuaskan,” kataku, kemudian kembali melanjutkan menciumnya. Tangannya
membuka baju sekolah yang masih kami kenakan dan juga ia membuka BH-nya
dan meletakkan tanganku di atas dadanya, kekenyalan dadanya sangat
berbeda dengan gadis lain yang pernah kusentuh.
Perlahan
ia membuka roknya, celanaku dan celana dalamnya. “Kita ke dalam kamar
yuk!” ajaknya setelah kami berdua sama-sama bugil, “Terserah kaulah,”
kataku, “Yang penting kau akan kupuaskan.” Tak kusangka ia berani
menarik penisku sambil berciuman, dan perlahan-lahan kami berjalan
menuju kamarnya. “Ben, kamu tiduran dech, kita pake ’69′ mau tidak?”
katanya sambil mendorongku ke kasurnya. Ia mulai menindihku, didekatkan
vaginanya ke mukaku sementara penisku diemutnya, aku mulai mencium-cium
vaginanya yang sudah basah itu, dan aroma kewanitaannya membuatku
semakin bersemangat untuk langsung memainkan klitorisnya.
Tak
lama setelah kumasukkan lidahku, kutemukan klitorisnya lalu aku
menghisap, menjilat dan kadang kumainkan dengan lidahku, sementara
tanganku bermain di dadanya. Tak lama kemudian ia melepaskan emutannya.
“Jangan hentikan Ben… Ach… percepat Ben, aku mau keluar nich! ach… ach…
aachh… Ben… aku ke.. luar,” katanya berbarengan dengan menyemprotnya
cairan kental dari vaginanya. Dan kemudian dia lemas dan tiduran di
sebelahku.
“Lus, sekali lagi yah, aku belum keluar nich,” pintaku.
“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.
Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya.
“Lus, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan.
Kelihatannya Lusi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Lusi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.
“Bentar dulu yach, aku lagi capek nich,” jelasnya.
Aku tidak peduli kata-katanya, kemudian aku mulai mendekati vaginanya.
“Lus, aku masukkin sekarang yach,” kataku sambil memasukkan penisku perlahan-lahan.
Kelihatannya Lusi sedang tidak sadarkan diri, dia hanya terpejam coba untuk beristirahat. Vagina Lusi masih sempit sekali, penisku dibuat cuma diam mematung di pintunya. Perlahan kubuka dengan tangan dan terus kucoba untuk memasukkannya, dan akhirnya berhasil penisku masuk setengahnya, kira-kira 7 cm.
“Jangan Ben… entar aku hamil!” katanya tanpa berontak.
“Kamu udah mens belom?” tanyaku.
“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.
Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,
“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”
“Ach… ach… ahhh…! sakit Ben, a.. ach… ahhh, pelan-pelan, aaa… aaach… aachhh…!” katanya berteriak nikmat.
“Tenang aja cuma sebentar kok, Lus mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya.
Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.
“Kamu udah mens belom?” tanyaku.
“Udah, baru kemaren, emang kenapa?” katanya.
Sambil aku masukkan penisku yang setengah, aku jawab pertanyaannya,
“Kalau gitu kamu kagak bakal hamil.”
“Ach… ach… ahhh…! sakit Ben, a.. ach… ahhh, pelan-pelan, aaa… aaach… aachhh…!” katanya berteriak nikmat.
“Tenang aja cuma sebentar kok, Lus mending doggy style dech!” kataku tanpa melepaskan penis dan berusaha memutar tubuhnya.
Ia menuruti kata-kataku, lalu mulai kukeluar-masukkan penisku dalam vaginanya dan kurasa ia pun mulai terangsang kembali, karena sekarang ia merespon gerakan keluar-masukku dengan menaik-turunkan pinggulnya.
“Ach… a… aaa ach…” teriaknya.
“Sakit lagi Ben… a.. aa… ach…”
“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.
“Ben,. ach pengen… ach.. a… keluar lagi Ben…” katanya.
“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.
“Cepetan Ben, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.
“A… ach… aaachhh…! yach kan keluar.”
“Aku juga Say…” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.
“Sakit lagi Ben… a.. aa… ach…”
“Tahan aja, cuma sebentar kok,” kataku sambil terus bergoyang dan meremas-remas buah dadanya.
“Ben,. ach pengen… ach.. a… keluar lagi Ben…” katanya.
“Tunggu sebentar yach, aku juga pengen nich,” balasku.
“Cepetan Ben, enggak tahan nich,” katanya semakin menegang.
“A… ach… aaachhh…! yach kan keluar.”
“Aku juga Say…” kataku semakin kencang menggenjot dan akhirnya setidaknya enam tembakan spermaku di dalam vaginanya.
Kucabut penisku dan aku melihat seprei, apakah ada darahnya atau tidak? tapi tenyata tidak.
“Lus kamu enggak perawan yach,” tanyaku.
“Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.
“Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.””Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”
“Siapa sih yang bisa nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra.
“Lus kamu enggak perawan yach,” tanyaku.
“Iya Ben, dulu waktu lagi masturbasi nyodoknya kedaleman jadinya pecah dech,” jelasnya.
“Ben ingat loh, jangan bilang siapa-siapa, ini rahasia kita aja.””Oh tenang aja aku bisa dipercaya kok, asal lain kali kamu mau lagi.”
“Siapa sih yang bisa nolak ‘Beni Junior’,” katanya mesra.
Setelah
saat itu setidaknya seminggu sekali aku selalu melakukan ML dengan
Lusi, terkadang aku yang memang sedang ingin atau terkadang juga Lusi
yang sering ketagihan, yang asyik sampai saat ini kami selalu bermain di
rumah tanpa ada seorang pun yang tahu, kadang tengah malam aku ke kamar
Lusi atau sebaliknya, kadang juga saat siang pulang sekolah kalau tidak
ada orang di rumah.
Kali ini kelihatannya Lusi
lagi ingin, sejak di sekolah ia terus menggodaku, bahkan ia sempat
membisikkan kemauannya untuk ML siang ini di rumah, tapi malangnya siang
ini ayah dan ibu sedang ada di rumah sehingga kami tak jadi melakukan
ini. Aku menjanjikan nanti malam akan main ke kamarnya, dan ia
mengiyakan saja, katanya asal bisa ML denganku hari ini ia menurut saja
kemauanku.
Ternyata sampai malan ayahku belum
tidur juga, kelihatannya sedang asyik menonton pertandingan bola di TV,
dan aku pun tidur-tiduran sambil menunggu ayahku tertidur, tapi malang
malah aku yang tertidur duluan. Dalam mimpiku, aku sedang dikelitiki
sesuatu dan berusaha aku tahan, tapi kemudian sesuatu menindihku hingga
aku sesak napas dan kemudian terbangun.
“Lusi! apa Ayah sudah tidur?” tanyaku melihat ternyata Lusi yang menindihiku dengan keadaan telanjang.
“kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.
“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.
“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku.
“Aku emut yach.”
Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.
“Lus jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!”
“Aku udah kepengen berat Ben!” katanya lagi.
“Mending seperti biasa, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.
“kamu mulai nakal Ben, dari tadi aku tunggu kamu, kamu tidak datang-datang juga. kamu tau, sekarang sudah jam dua, dan ayah telah tidur sejak jam satu tadi,” katanya mesra sambil memegang penisku karena ternyata celana pendekku dan CD-ku telah dibukanya.
“Yang nakal tuh kamu, Bukannya permisi atau bangunin aku kek,” kataku.
“kamu tidak sadar yach, kamu kan udah bangun, tuh liat udah siap kok,” katanya sambil memperlihatkan penisku.
“Aku emut yach.”
Emutanya kali ini terasa berbeda, terasa begitu menghisap dan kelaparan.
“Lus jangan cepet-cepet dong, kasian ‘Beni Junior’ dong!”
“Aku udah kepengen berat Ben!” katanya lagi.
“Mending seperti biasa, kita pake posisi ’69′ dan kita sama-sama enak,” kataku sembil berputar tanpa melepaskan emutannya kemudian sambil terus diemut.
Bersambung Lanjut Klik disini
Cerita Sex Sedarah
“Aach… achhh…” desahnya ketika kutemukan klitorisnya.
“Ben! kamu pinter banget nemuin itilku, a.. achhh.. ahh..”
“kamu juga makin pinter ngulum ‘Beni’ kecil,” kataku lagi.
“Ben, kali ini kita tidak usah banyak-banyak yach, aa.. achh..” katanya sambil mendesah.
“Cukup sekali aja nembaknya, taaapi… sa.. ma.. ss.. sa… ma… maaa ac… ach…” katanya sambil menikmati jilatanku.
“Tapi Ben aku.. ma.. u.. keluar nich! Ach.. a… aaahh…” katanya sambil menegang kemudian mengeluarkan cairan dari vaginanya.
“Kayaknya kamu harus dua kali dech!” kataku sambil merubah posisi.
“Ya udah dech, tapi sekarang kamu masukin yach,” katanya lagi.
“Bersiaplah akan aku masukkan ini sekarang,” kataku sambil mengarahkan penisku ke vaginanya.
“Siap-siap yach!”
“Ayo dech,” katanya.
“Ach… a… ahhh…” desahnya ketika kumasukkan penisku.
“Pelan-pelan dong!”
“Inikan udah pelan Lus,” kataku sambil mulai bergoyang.
“Lus, kamu udah terangsang lagi belon?” tanyaku.
“Bentar lagi Ben,” katanya mulai menggoyangkan pantatnya untuk
mengimbangiku, dan kemudian dia menarik kepalaku dan memitaku untuk
sambil menciumnya.
“Sambil bercumbu dong Ben!”
Tanpa disuruh dua kali aku langsung mncumbunya, dan aku betul-betul menikmati permainan lidahnya yang semakin mahir.
“Lus kamu udah punya pacar belom?” tanyaku.”Aku udah tapi baru abis putus,” katanya sambil mendesah.
“Ben pacar aku itu enggak tau loh soal benginian, cuma kamu loh yang beginian sama aku.”
“Ach yang bener?” tanyaku lagi sambil mempercepat goyangan.
“Ach.. be.. ner.. kok Ben, a.. aaa… ach.. achhh,” katanya terputus-putus.
“Tahan aja, atau kamu mau udahan?” kataku menggoda.
“Jangan udahan dong, aku baru kamu bikin terangsang lagi, kan kagak
enak kalau udahan, achh… aaa… ahhh… aku percepat yach Ben,” katanya.
Kemudian mempercepat gerakan pinggulnya.
“Kamu udah ngerti gimana enaknya, bentar lagi kayaknya aku bakal keluar
dech,” kataku menyadari bahwa sepermaku sudah mengumpul di ujung.
“Achh… ach… bentar lagi nih.”
“Tahan Ben!” katanya sambil mengeluarkan penisku dari vaginanya dan
kemudian menggulumnya sambil tanganya mamainkan klitorisnya.
“Aku juga Ben, bantu aku cari klitorisku dong!” katanya menarik tanganku ke vaginanya.
Sambil penisku terus dihisapnya kumainkan klitorisnya dengan tanganku dan…
“Achh… a… achh… achhh… ahhh…” desahku sambil menembakkan spermaku dalam mulutnya.
“Aku juga Ben…” katanya sambil menjepit tanganku dalam vaginanya.
“Ach… ah… aaa.. ach…” desahnya.
“Aku tidur di sini yach, nanti bangunin aku jam lima sebelum ayah
bagun,” katanya sambil menutup mata dan kemudian tertidur, di
sampingku.
Tepat jam lima pagi aku bangun dan membangunkanya, kemudian ia bergegas
ke kamar madi dan mempersiapkan diri untuk sekolah, begitu juga dengan
aku. Yang aneh siang ini tidak seperti biasanya Lusi tidak pulang
bersamaku karena ia ada les privat, sedangkan di rumah cuma ada Mbak
Riri, dan anehnya siang-siang begini Mbak Riri di rumah memakai kaos
ketat dan rok mini seperti sedang menunggu sesuatu.
“Siang Ben! baru pulang? Lusi mana?” tanyanya.
“Lusi lagi les, katanya bakal pulang sore,” kataku, “Loh Mbak sendiri kapan pulang? katanya dari Solo yach?”
“Aku pulang tadi malem jam tigaan,” katanya.
“Ben, tadi malam kamu teriak sendirian di kamar ada apa?”
Wah gawat sepertinya Mbak Riri dengar desahannya Lusi tadi malam.
“Ach tidak kok, cuma ngigo,” kataku sambil berlalu ke kamar.
“Ben!” panggilnya, “Temenin Mbak nonton VCD dong, Mbak males nich nonton sendirian,” katanya dari kamarnya.
“Bentar!” kataku sambil berjalan menuju kamarnya, “Ada film apa Mbak?” tanyaku sesampai di kamarnya.
“Liat aja, nanti juga tau,” katanya lagi.
“Mbak lagi nungguin seseorang yach?” tanyaku.
“Mbak, lagi nungguin kamu kok,” katanya datar, “Tuh liat filmnya udah mulai.”
“Loh inikan…?” kataku melihat film BF yang diputarnya dan tanpa
meneruskan kata-kataku karena melihat ia mendekatiku. Kemudian ia mulai
mencium bibirku.
“Mbak tau kok yang semalam,” katanya, “Kamu mau enggak ngelayanin aku, aku lebih pengalaman dech dari Lusi.”
Wah pucuk di cinta ulam tiba, yang satu pergi datang yang lain.
“Mbak, aku kan adik yang berbakti, masak nolak sich,” godaku sambil
tangan kananku mulai masuk ke dalam rok mininya menggosok-gosok
vaginanya, sedangkan tangan kiriku masuk ke kausnya dan memencet-mencet
payudaranya yang super besar.
“Kamu pinter dech, tapi sayang kamu nakal, pinter cari kesempatan,”
katanya menghentikan ciumannya dan melepaskan tanganku dari dada dan
vaginanya.
“Mbak mau ngapain, kan lagi asyik?” tanyaku.”Kamu kagak sabaran yach,
Mbak buka baju dulu terus kau juga, biar asikkan?” katanya sambil
membuka bajunya.
Aku juga tak mau ketinggalan, aku mulai membuka bajuku sampai pada akhirnya kami berdua telanjang bulat.
“Tubuh Mbak bagus banget,” kataku memperhatikan tubuhnya dari atas
sampai ujung kaki, benar-benar tidak ada cacat, putih mulus dan sekal.
Ia langsung mencumbuku dan tangan kanannya memegang penisku, dan mengarahkan ke vaginanya sambil berdiri.
“Aku udah enggak tahan Ben,” katanya.
Kuhalangi penisku dengan tangan kananku lalu kumainkan vaginanya dengan tangan kiriku.
“Nanti dulu ach, beginikan lebih asik.”
“Ach… kamu nakal Ben! pantes si Lusi mau,” katanya mesra.
“Ben…! Mbak…! lagi dimana kalian?” terdengar suara Lusi memanggil dari luar.
“Hari ini guru lesnya tidak masuk jadi aku dipulangin, kalian lagi dimana sich?” tanyanya sekali lagi.
“Masuk aja Lus, kita lagi pesta nich,” kata Mbak Riri.
“Mbak! Entar kalau Lusi tau gimana?” tanyaku.
“Ben jangan panggil Mbak, panggil aja Riri,” katanya dan ketika itu aku melihat Lusi di pintu kamar sedang membuka baju.
“Rir, aku ikut yach!” pinta Lusi sambil memainkan vaginanya.
“Ben kamu kuat nggak?” tanya Riri.
“Tenang aja aku kuat kok, lagian kasian tuch Lusi udah terangsang,” kataku.
“Lus cepet sinih emut ‘Beni Junior’,” ajakku.
Tanpa menolak Lusi langsung datang mengemut penisku.
“Mending kita tiduran, biar aku dapet vaginamu,” kataku pada Riri.
“Ayo dech!” katanya kemudian mengambil posisi.
Riri meletakkan vaginanya di atas kepalaku, dan kepalanya menghadap vagina Lusi yang sedang mengemut penisku.
“Lus, aku maenin vaginamu,” katanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Lusi ia langsung bermain di
vaginanya.Permainan ini berlangsung lama sampai akhirnya Riri
menegangkan pahanya, dan… “Ach… a… aaach… aku keluar…” katanya sambil
menyemprotkan cairan di vaginanya.
“Sekarang ganti Lusi yach,” kataku.
Kemudian aku bangun dan mengarahkan penisku ke vaginanya dan masuk perlahan-lahan.
“Ach… aach…” desah Lusi.
“Kamu curang, Lusi kamu masukin, kok aku tidak?” katanya.
“Abis kamu keluar duluan, tapi tenang aja, nanti abis Lusi keluar kamu
aku masukin, yang penting kamu merangsang dirimu sendiri,” kataku.
“Yang cepet dong goyangnya!” keluh Lusi.
Kupercepat goyanganku, dan dia mengimbanginya juga.
“Kak, ach… entar lagi gant… a… ach.. gantian yach, aku.. mau keluar
ach… aaa… a… ach….!” desahnya, kemudian lemas dan tertidur tak berdaya.
“Ayo Ben tunggu apa lagi!” kata Riri sambil mengangkang mampersilakan penisku untuk mencoblosnya.
“Aku udah terangsang lagi.”
Tanpa menunggu lama aku langsung mencoblosnya dan mencumbunya.
“Gimana enak penisku ini?” tanyaku.
“Penis kamu kepanjangan,” katanya, “tapi enak!”.
“Kayaknya kau nggak lama lagi dech,” kataku.
“Sama, aku juga enggak lama lagi,” katanya, “Kita keluarin sama-sama yach!” terangnya.
“Di luar apa di dalem?” tanyaku lagi.
“Ach… a… aach… di.. dalem… aja…” katanya tidak jelas karena sambil mendesah.
“Maksudku, ah.. ach.. di dalem aja… aah… ach… bentar lagi…”
“Aku… keluar… ach… achhh… ahhh…” desahku sambil menembakkan spermaku.
“Ach… aach… aku… ach.. juga…” katanya sambil menegang dan aku merasakan cairan membasahi penisku dalam vaginanya.
Akhirnya kami bertiga tertidur di lantai dan kami bangun pada saat bersamaan.
“Ben aku mandi dulu yach, udah sore nich.”
“Aku juga ach,” kataku.
“Ben, Lus, lain kali lagi yach,” pinta Riri.
“Itu bisa diatur, asal lagi kosong kayak gini, ya nggak Ben!” kata Lusi.
“Kapan aja kalian mau aku siap,” kataku.
“Kalau gitu kalian jangan mandi dulu, kita main lagi yuk!” kata Riri mulai memegang penisku.
Akhirnya kami main lagi sampai malam dan kebetulan ayah dan ibu telepon
dan mengatakan bahwa mereka pulangnya besok pagi, jadi kami lebih bebas
bermain, lagi dan lagi. Kemudian hari selanjutya kami sering bermain
saat situasi seperti ini, kadang tengah malam hanya dengan Riri atau
hanya Lusi. Oh bapak tiri, ternyata selain harta banyak, kamu juga
punya dua anak yang siap menemaniku kapan saja, ohh nikmatnya hidup
ini.
Tamat
Cerita Sex Sedarah
Cerita sex Adik Tiriku Pemuasku - Dari semua pengalaman gue selama ini, yang pertama-tama gue mau cerita
adalah pengalaman gue dengan seorang yang bernama Bella, sebutlah
seperti itu namanya. (gue pake nama samaran karena ga mau ada orang yang
bisa menebak siapa gue sebetulnya)
Sesungguhnya si Bella ini adalah adik gue sendiri. Kita satu ayah tapi
beda ibu. Dia bertumbuh dan besar di kampung selama ini. Dan pada suatu
saat (gue ga mau sebut tahunnya, takut ketebak ma orang), dia datang ke
kota dimana gue dan kakak perempuan gue tinggal (kakak perempuan gue itu
adalah saudara kandung gue dan dia sudah punya suami, sementara gue
tinggal dirumahnya).
Bella waktu itu baru tamat smp dan mau melanjutkan sekolah ke jenjang
smu sementara gue masih kuliah tingkat skripsi tetapi sudah sambil
bekerja. Dan sejak gue perhatikan kedatangannya, dalam hati gue
berpikir, ini anak kampungan banget sih.
Pokoknya masih polos-polos gitulah. Gue biasa-biasa aja pada permulaan
melihat dia, walaupun yang gue perhatiin dari dia adalah bahwa dia
mempunyai kulit yang cukup putih bersih dan tubuh yang padat walau
tinggi badannya sangat tidak ideal. Tapi tetap menarik untuk dilihat
pada umumnya.
Dan berlalulah waktu tanpa terasa dirumah kakak gue ini dengan kehadiran
penghuni baru ini. Selayaknya seorang adik, dia memanggil gue dengan
sebutan kakak , tentunya. Si Bella ini tidurnya dengan keponakan gue
yang masih SD. Dan karena jadwal sekolahnya masuk siang jadi kalau
pulang kerja, gue menyempatkan diri untuk menjemput dia (karena tingkat
skripsi jadi hanya kadang-kadang aja ke kampus)dan pulang bareng-bareng
ke rumah.
Oiya, ada beberapa waktu lamanya ketika ibu gue dari kampung juga sempat
tinggal di rumah kakak gue untuk menemani adik gue ini beradaptasi
dengan lingkungan yang baru dialaminya. Dan gue suka memperhatikan kalau
bangun pagi, adik gue ini tidak langsung melakukan aktivitas tetapi dia
menunggu dulu, ibu gue yang suka mengusap-usap telinganya sebagai
ritual pagi yang harus dilakukan dan baru setelah itu dia akan bangun
dan melakukan aktivitas dirumah.
Dan disitulah awal daripada semua cerita ini. Ketika saatnya ibu pulang
ke kampung, kalau pagi-pagi gue bangun untuk siap-siap kerja, gue
perhatikan adik gue ini belum bangun. Paling gue hanya masuk ke kamarnya
dan lihat dia sudah buka mata tapi belum mau bangun (sementara
kebiasaan keponakan gue yang tidur bersamanya adalah, kalau bangun pagi
langsung pergi ke kamar ayah dan ibunya untuk dimanja-manja). Pertamanya
sih, gue biasanya hanya bilang ke dia seperti ini misalnya:”Ayo bangun
Bella, bantu-bantu sana di dapur…” Gue hanya ingetin dia supaya rajin
karena kita hanya menumpang tinggal saja.
Tetapi entah kenapa, suatu pagi terlintas di benak, adik gue ini kasihan
juga karena dia sebetulnya membutuhkan kasih sayang dari orang tua,
setidaknya dari ibu yang biasanya mengelus-elus telinganya ketika dia
terbangun dipagi hari. Dan pada pagi itulah setelah gue selesai mandi
dan pergi ke kamarnya, gue rebahan disamping dia yang selalu posisi
tidurnya dengan gaya tidur samping dan langsung mengelus-elus telinganya
sambil mengatakan:”Kamu pasti kangen diginiin sama ibu ya…” si Bella
membalikkan badannya dan hanya tersenyum senang saja. Lalu selanjutnya,
beberapa hari ke depan, setiap pagi gue datang kekamarnya dan mengelus
telinganya tanpa punya perasaan apa-apa.
Hingga pada suatu pagi, gue masuk ke kamarnya dan seperti biasanya
langsung mengelus-elus telinganya, ehhh, ketika dia membalikkan
badannya, tangan gue yang tadinya berada di telinga terturun karena
gerakan tubuhnya menjadi bersentuh dengan payudaranya. Entah kenapa, gue
mengalami perasaan yang berbeda saat itu. Lain banget perasaannya. Ada
sedikit mengalami ketegangan.
Ketegangan pada jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat. Ketegangan
pada nafas yang sedikit tertahan. Dan ketegangan pada penis gue yang
tiba-tiba menjadi keras. (sebetulnya ga aneh kalau penis pria mengeras
dipagi hari, karena itu memang sudah kodratnya, menurut ilmu kedokteran)
Tapi yang gue rasa aneh adalah ketika gue sudah mulai menikmati semua
ketegangan ini. Dan entah setan darimana yang sudah menunggu kesempatan
ini untuk menjatuhkan iman gue, entah kenapa ketika adik gue telentang
seperti biasanya kalau sudah mulai dielus telinganya, seharusnya gue
memilih mengelus telinga yang terdekat dengan posisi gue disampingnya.
Tapi kali ini, gue bersikap diluar kebiasaan, yaitu dengan mencari
telinga yang justru disebelah kirinya.
Sudah pasti dapat ditebak, dengan posisi kita berdua sama-sama tidur,
tentu saja ketika gue meraih telinga yang disebelah kiri, maka itu
berarti gue harus menjulurkan jangkauan lebih jauh dan itu artinya bahwa
lengan gue akan menindih payudaranya yang terliwati oleh tangan gue.
Dan jujur, itulah sebetulnya yang gue sudah rencanakan dengan tiba-tiba
pada pagi itu. Sementara gue mengelus telinganya, pada saat itu juga,
lengan gue tergesek-gesek oleh payudaranya yang menyembul.
Mungkin bisa dikatakan tidak terlalu montok, tetapi lumayanlah untuk
merasakan bahwa itu adalah payudara perempuan yang sedang ranum-ranumnya
berkembang. Tapi gilanya, itu adalah payudara adik gue sendiri! Adik
tiri, tepatnya!
Kejadian pagi itu, menjadi berulang pada hari-hari selanjutnya.
Kadang-kadang adik gue terlentang kalau dielus telinganya tapi sering
juga dia hanya dalam posisi miring tidurnya, sehingga kalau demikian
yang terjadi maka gue tidak bisa merasakan sentuhan dengan payudaranya.
Tetapi ada kebiasaan baru yang gue dapatkan kalau seandainya adik gue
tidur pada posisi miring: maka karena tidak terlihat oleh dia, gue
sambil tengkurap tidurnya, tangan memegang telinganya, tetapi badan gue
gesek-gesekan ke kasur sambil membayangkan sedang bersenggama dengan
wanita.
Jujur, kalau sudah melakukan gesekan seperti itu, biasanya gue tidak
akan berhenti menggesekan penis gue itu hingga akhirnya benar-benar
orgasme.
Mungkin sensasi yang gue dapatkan karena gue menyentuh telinga seorang
wanita, meskipun itu adalah adik gue sendiri.
Kejadian sejak saat itu
akhirnya menjadi kenikmatan baru gue. Dan itu bertambah aneh rasanya,
kalau gue sedang membonceng adik gue dimotor ketika jemput dia pulang ke
rumah.
Dalam perjalanan, pasti ada saja situasi yang membuat payudaranya
tersentuh dengan punggung gue, rasanya, badan gue langsung jadi tegang
dan pikiran mendadak menjadi kotor, membayangkan hal yang tidak-tidak
bersama adik gue ini. (dia kalau dibonceng tidak pernah pegangan
dibagian tubuh gue)
Tetapi semua itu hanyalah pikiran didalam hati yang masih jauh untuk
dilaksanakan dalam kenyataan. Hingga pada suatu saat, gue lupa kapan
tepatnya adik gue ini curhat, bahwa dia lagi dekat dengan seorang pria
teman sekolahnya.
Entah kenapa, waktu mendengar cerita itu, gue pura-pura seneng tapi
dalam hati seperti ada kata penolakan. Menolak kalau menerima kenyataan,
adik gue akan berpacaran dengan seorang pria. Dan kenyataan
selanjutnya, gue mencari tahu siapa cowo yang sedang dekat sama dia.
Waktu gue jemput dia pulang suatu saat (oiya, gue ga selamanya bisa
jemput dia karena terkadang pulang dari kerja langsung ke kampus) gue
tanya apakah ada cowo yang naksir dia, diantara murid-murid sekolah yang
sedang kumpul didekatnya. Dan dia menunjukkan seorang cowo: tinggi,
putih dan cakep (bukan ganteng loh) Lalu langsung timbul perasaan aneh
lagi.
Sepertinya, perasaan ini adalah perasaan cemburu. Gue yakin banget. Itu
adalah perasaan cemburu. Kalau itu memang perasaan cemburu, apakah ini
berarti tanpa gue sadari, gue sudah mencintai adik gue sendiri? Atau
sedikitnya, menyukai dia? Ada perasaan gue tidak mau kehilangan dia.
Lalu apa yang harus gue lakukan?
Seperti biasanya pada pagi selanjutnya, ritual memegang telinga
dilakukan kembali. Tetapi pagi itu, tekad gue sudah bulat. Kali ini akan
berbeda dari pagi-pagi sebelumnya. Ketika gue rebahan disampingnya,
seperti biasanya dia tidur gaya menyamping.
Dia tidak terlentang ketika gue mengelus telinganya, sehingga rencana
yang sudah disusun sebelumnya berganti. Hanya sebentar gue mengelus
telinganya, dan sebagai gantinya, jari tangan gue sekarang menekan-nekan
bagian pundaknya, sambil seakan-akan sedang memijit dengan lembut.
Nafas gue langsung memburu dengan tindakan gue ini. Jantung serasa mau
copot karena ini tindakan yang tidak biasa dilakukan pada adik gue ini.
Pertama, dia hanya diam saja, tetapi lama-kelamaan dia sudah mulai
menggelinjang dengan pijitan gue ini.
Gilanya, gue juga mendekatkan mulut gue ketelinganya dan bilang:”Enak ya
‘de…” dan dia hanya menjawab singkat:”Heeh…” Sebelum ponakan gue masuk
kamar dan melihat kejadian yang diluar kebiasaan ini, gue langsung
hentikan pijitan kecil ini dengan harapan besok akan dilanjutkan.
Dan
itulah yang terjadi kemudian, besok paginya, gue kembali datang ke
kamarnya dan hanya sebentar untuk mengelus telinganya dan langsung
memijit tubuhnya lagi dari samping.
Tetapi kali ini, gue sudah lebih berani lagi untuk memijit langsung
dengan memasukkan tangan gue kedalam kaosnya. Tentu saja dia menjadi
kaget, karena tentunya berbeda kalau dipijit ada kaos yang menjadi
penghalang dan dipijit tangan langsung ketemu dengan kulit.
Tapi dengan sigap gue bisikkan, “Biar ga seret tangan gue memijitnya…”,
Alasan yang masuk akal!!! Dan bertambah berdegup jantung ini waktu mijit
dan kena bagian bra. Seakan-akan pengen langsung buka aja bra-nya biar
sensasinya semakin gila.
Jujur gue harus bilang, adik gue ini permukaan kulitnya, sangatlah
mulus. Dan karena dia membelakangi gue dia tidak tahu sambil memijitnya,
gue tengkurap dan menggesek-gesekkan penis gue ke kasur, hingga
akhirnya gue orgasme seperti biasanya. Kalau sudah seperti itu, gue akan
dengan cepat-cepat keluar kamar. Nafsu seakan langsung reda kalau sudah
tertumpah sperma ini.
Hingga pada suatu pagi, petualangan gue semakin bertambah derajatnya.
Karena sudah terbiasa dengan memijit bagian punggung, gue sekarang sudah
mulai pelan-pelan menyusuri bagian depan tubuhnya. Dengan posisi dia
tidur tengkurap, itu pasti susah dijangkau.
Tetapi dengan posisi tidur miring, maka segalanya menjadi mudah. Dan
yang terjadi adalah, pelan-pelan gue memijit dia seperti biasanya, naik
turun pundak-punggung-pinggang. Dan setelah cukup dirasa waktunya, gue
mulai memijit bagian pinggang samping dan mulai naik ke ketiaknya.
Pertama-tama dia merasa kegelian, tetapi lama-kelamaan dia terbiasa juga
dengan sentuhan gue ini. Dan ketika dia sudah terbiasa, tangan gue
mulai merambah kebagian yang lainnya. Sudah mulai berani lagi maju
kebagian depannya, yaitu kebagian perut.
Berputar-putar memijit bagian perutnya (lebih tepatnya sih, seperti
hanya mengelus saja) dan mulai berani naik kebagian yang lebih atas
lagi, dan sudah bisa ditebak, tangan gue akan bertemu dengan payudaranya
disana.
Bayangkan, kalau sebelumnya, gue pernah merasakan bersentuhan dengan
payudaranya, itu hanya sebatas sentuhan lengan saja dan dipisahkan
dengan baju atau kaus yang melekat ditubuhnya, tetapi sekarang, jemari
tangan seorang kakak akan dengan sengaja memulai petualangannya untuk
menyentuh bagian payudara dari adiknya sendiri. Tepatnya, adik
tirinya!
Kebiasaan gue yang paling baik adalah, selalu sabar. Jangan
terburu-buru. Gue akan melihat dulu bagaimana reaksi dari adik gue ini
ketika tangan gue perlahan sudah mulai naik kebagian atas tubuhnya,
yaitu kebagian payudaranya. Rasanya tidak masuk akal kalau dia tidak
merasakan pergerakan tangan gue yang sudah mulai kelihatan aneh.
Tetapi tidak masuk akal juga, kalau seorang wanita sudah membiarkan
tangan laki-laki lain menjamahnya sudah semakin jauh, meskipun itu
adalah kakaknya sendiri, lalu kemudian tiba-tiba menolaknya dengan
drastis. Dan yang terjadi kemudian adalah, penolakan terjadi juga
terhadap tangan ini dengan dikibaskannya dengan pelan tangan gue oleh
adik gue dan kemudian dia mengambil posisi tengkurap, yang artinya,
cukup sampai disini usahamu kakakku. Yang bisa gue lakukan hanya
mengeluarkan tangan gue dari dalam kaosnya, dan kemudian kembali memijit
punggungnya dari luar sebentar saja dan selanjutnya keluar dari kamar.
Oiya, gue terkadang merasa bersyukur juga karena selama ini, kakak gue
dan suaminya, apalagi keponakan gue yang masih kecil itu, tidak menaruh
curiga dengan kegiatan gue tiap pagi di kamar dimana adik gue tidur,
karena pasti mereka berpikir, gue adalah kakak yang baik, yang tidak
mungkin berpikiran macam-macam.
Tapi yang gue ingat pada pagi
selanjutnya adalah, usaha untuk bisa melangkah lebih jauh tetap dengan
gigih gue lakukan. Singkat cerita, jemari tangan gue dari posisi perut,
sudah menunjukkan tanda-tanda akan segera naik kebagian atas. Dan
anehnya, adik gue seperti tidak lagi perduli, entah dia menikmati juga
pergerakan jemari gue yang mengusap tubuhnya dengan lembut, atau entah
dia juga merasa tidak enak kalau melawan kehendak kakaknya yang sudah
kebawa nafsu kotor ini.
Hingga akhirnya, jemari tangan gue sudah mulai tiba dibagian
payudaranya, tetapi tentu saja payudaranya tertutup dengan bra yang
dikenakannya.
Bagi gue itu tidak penting! Yang penting adalah, adik sudah mengetahui
apa rencana gue terhadap dirinya dan menangkap sinyal yang telah gue
berikan selama ini kenapa tiap pagi gue menjadi rajin masuk kedalam
kamarnya, dan kalau dia sudah tidak menampik tangan gue, itu berarti dia
sudah setuju untuk gue gerayangin seluruh tubuhnya tanpa syarat apapun
juga.
Itulah yang terjadi, gue tidak berhenti menelan air liur gue ketika gue
sudah mulai menjelajahi payudara sebelah kanannya. Meskipun tertutup
bra, tetapi sensasinya sampai bikin gue pusing ketika gue meremasnya.
Gue tidak bisa melihat bagaimana reaksi wajah adik gue ketika gue
menekan dengan lembut payudaranya karena dia berposisi tidur menyamping.
Tapi gue bisa memastikan, tubuh gue seakan melayang dengan tindakan gue
yang tidak senonoh ini. Apalagi ketika gue kemudian berpindah lagi
untuk menekan payudaranya yang lain.
Dari sentuhan lembut, pelan-pelan mulai agak meremas dengan keras dan
itulah kali pertamanya gue mendengar suara adik gue yang mulai
mendesah-desah. Sepertinya, gayung bersambut dengan positif dan ini
menambah semangat gue untuk melakukan aksi nikmat selanjutnya.
Logikanya, kalau dia tidak menikmati, atau hanya sekedar terpaksa, tidak
mungkin dia akan mendesah.
Karena mendesah bagi gue artinya adalah, dia menikmati semua sentuhan
ini. Tidak puas hanya membelai dan meremas dengan bra menjadi
pemisahnya, maka jemari tangan gue sudah mulai menyelusup masuk kedalam
payudara yang sebelumnya tersembunyi itu.
Ketika itu terjadi, wowww…rasanya, jantung gue sudah mau copot saja.
(ini bukan kali pertama gue menyentuh payudara wanita, tetapi kalau itu
adalah payudara adik sendiri, disinilah sensasi yang tak terkatakan
dapat dirasakan) Pertamanya, dia agak menggelinjang ketika jemari gue
menyentuh putingnya. Entah karena kaget atau mungkin karena kenikmatan.
Tapi yang pasti gue tidak akan membuang waktu lagi untuk segera
menggesek-gesekan penis gue kekasur sambil terus mulai meremas-remas
payudaranya.
Semakin cepat gue menggesek penis dikasur, semakin kuat gue meremas
payudaranya. Dan ketika tiba waktunya untuk orgasme, gue benar-benar
menikmati semuanya itu dengan puas tetapi dengan masih sejuta penasaran
yang lain yang seakan muncul: apakah hanya sejauh ini? Apakah gue cukup
puas dengan masturbasi sendiri sambil menyentuh bagian tubuh dari adik
sendiri?
Anehnya, ketika gue punya kesempatan menjemput dia pulang dari sekolah,
sepanjang perjalanan pulang di motor, kita berdua seakan-akan pura-pura
tidak tahu apa yang terjadi setiap paginya dengan hubungan kita berdua.
Justru yang dibicarakan oleh adikku itu adalah tentang cowo yang sedang
terus mengejarnya. Dan setiap mendengar cerita itu, tiba-tiba saja
muncul perasaan aneh didalam perasaan gue ini, yaitu perasaan nafsu
birahi untuk bisa melakukan sesuatu yang lebih lagi terhadap adik gue
ini.
Dan itu memang terjadi pada suatu pagi selanjutnya. Kalau yang
sudah-sudah, gue membiarkan dia dalam posisi tidur samping dan gue akan
menggerayangi tubuhnya dengan puas tanpa kita berdua harus bertatapan
muka (gue pikir-pikir, itu pasti cara teraman yang dilakukan adik gue
supaya kita berdua tidak menjadi malu kalau sampai bertatapan muka
ketika terjadinya perbuatan ini) tapi pagi itu, gue langsung menariknya
dengan pelan agak tidur dengan posisi terlentang.
Selanjutnya tanpa takut ataupun malu, gue langsung menindihnya dengan
tubuh gue diatas tubuhnya dan langsung gue beraksi. Suasana pagi yang
masih gelap tanpa adanya lampu sangat menunjang aksi seperti ini karena
sesungguhnya, kita berdua tidak dengan jelas bisa saling memandang.
Gue langsung mencium bagian lehernya dengan lembut sembari tangan gue
langsung masuk kebagian tubuhnya. Sebenarnya rencana gue hanya
sederhana, seperti yang sudah-sudah, gue harus orgasme karena
menggesek-gesekan penis gue ini. Tapi kalau sebelumnya gue menggesekkan
penis ini di kasur tapi kali ini gue harus gesekkan diatas bagian tubuh
adik gue ini. Dan gue mencari posisi yang pas hanya untuk urusan penis
yang diarahkan kebagian selangkangannya. Gue tidak butuh tangan masuk
kedalam payudaranya tetapi cukup hanya meremas dari luar, tetapi yang
penting, penis gue yang sudah menegang itu digesek-gesekan kebagian
selangkangannya saja. Itu sudah menambah sensasi nikmatnya seks gue ke
jenjang yang lebih tinggi lagi. Selama perbuatan ini berlangsung,
samar-samar gue melihat tampang adik gue seperti menutup matanya dengan
terpaksa (mungkin untuk menghindari tatapan langsung dengan gue) tetapi
dia tidak dapat menutupi mulutnya yang perlahan mendesah-desah menikmati
gesekan penis gue diatas vaginanya yang tertutup oleh short yang
dikenakannya.
Gue sangat puas dengan kejadian saat itu, karena sebetulnya secara
terbuka, adik gue sudah memberikan tanda, bahwa dia tidak keberatan
dengan aksi gue selama ini dan bahkan mungkin menikmatinya dengan
sangat.
Dan itulah memang perangkap setan: kita tidak pernah puas dengan apa
yang sudah didapatkan tetapi malah penasaran untuk mencoba ke jenjang
yang lebih tinggi.
Dan kesempatan untuk merasakan sesuatu yang lebih
nikmat lagi datang pada gue dan adik. Itu bermula ketika kakak ipar gue
harus tugas luar kota. Seperti biasanya, keponakan gue akan pindah tidur
bersama ibunya dan itu berarti bahwa adik gue akan tidur sendiri.
Sepanjang hari gue sudah merencanakan untuk melakukan aksi yang lebih
hebat lagi. Walaupun jujur, gue tidak berharap banyak kalau rencana dan
aksi ini akan berlangsung mulus. Ketika malam tiba, jantung gue berdetak
dengan cepat karena menanti kapan saatnya seluruh penghuni akan
tertidur dengan lelap, khususnya kakak dan keponakan.
Sedikit-sedikit mata melihat kearah jarum jam sambil berpikir kapan
waktu yang tepat. Mungkin karena saking tegangnya, malam itu entah
kenapa, gue jatuh tertidur dengan lelapnya. Ketika bangun pagi, di otak
langsung muncul harus kekamar adik.
Tetapi ketika gue membuka gagang pintunya, ternyata terkunci dari dalam.
Dan baru mengertilah gue selama ini, kalau pintu biasanya tidak
terkunci, itu karena keponakan gue sudah bangun dan pindah kekamar orang
tuanya. Sementara kali ini terkunci karena adik gue masih tidur.
Tapi gue membaca kejadian ini sebagai petunjuk bahwa, bisa saja adik gue
tidak mau memberikan kesempatan untuk gue agar bisa masuk kekamarnya
dan itu artinya suatu tanda yang buruk bagi gue secara pribadi.
Gue bertanya, apa iya adik gue memang tidak menginginkan kehadiran gue
dikamarnya? Apa iya selama ini dia terpaksa menerima aksi bejat gue?
Atau mungkin dia sudah sadar bahwa semua ini adalah tidak etis dan dosa?
Sempat kacau perasaan ini sepanjang hari itu sambil menebak-nebak apa
yang sebetulnya sedang terjadi.
Terlebih pada pagi itu sampai gue berangkat ke kantor, gue tidak melihat
adik keluar dari kamarnya. Sehingga pada malamnya, ketika pulang kantor
dan juga tidak melihat adik di ruang tamu, ruang makan ataupun ruang
TV, gue berpikir, lenyap sudah rencana-rencana jahat yang ada di otak
yang akan dilakukan terhadap adik gue itu.
Sehingga akhirnya, malam itu gue pergi tidur agak cepat dari biasanya.
Tapi disitulah letak misterinya dosa: antara sadar dan tidak sadar, gue
mendengar ada suara yang membangunkan gue dari tidur ditengah malam.
Ketika gue membuka mata, adik gue sudah didepan gue sambil memohon:”Ka,
temenin aku tidur donk…hujan keras dan petir, bikin aku ketakutan…” dan
memang benar, diluar terdengar hujan keras, tapi tidak terdengar
petirnya. Entah kenapa, yang ada dipikiran gue saat itu adalah, apakah
kakak gue harus mengetahui gue tidur menemani adik tiri kita malam itu.
Mungkin karena memang ada apa-apanya, gue takut kalau kakak gue tahu
kejadian ini. Tentu saja gue dengan senang hati akan menemani dia tidur
tapi kakak gue tidak boleh mengetahuinya.
Jadi yang gue lakukan adalah, suruh dia pergi kekamarnya duluan dan
berjanji akan menyusul. Gue takut kalau nanti terdengar berisik kalau
kita berdua berjalan bersama-sama.
Mungkin sekitar setengah jam baru kemudian gue menyusul kekamarnya, dan
tentu saja kali ini kamar tersebut tidak terkunci. Gue melihat dalam
kegelapan adik gue tidak bereaksi dengan kedatangan gue ini, mungkin dia
sudah kembali tertidur pulas atau mungkin, justru pura-pura tidur.
Gue
langsung mengambil posisi berbaring disebelahnya dan tentu saja kembali
jantung berdegup dengan keras (saat ini saja ketika sedang kembali
menuliskan pengalaman ini, jantung gue berdebar-debar, karena
seakan-akan kejadian itu masih ada didepan mata) ketika rebah tidur
disampingnya.
Gue sempat memejamkan mata tetapi itu hanya terjadi sebentar saja.
Debaran jantung membuat gue tidak bisa menutup mata lama-lama. Dipikiran
saat itu adalah, gilaaaaa….sekarang tidur disamping gue adalah wanita
yang sudah menjadi korban pelampiasan seks yang tidak direncanakan dan
selama ini gue sudah sangat bersyukur menikmati hanya dengan tangan gue
yang meraba-raba bagian tubuhnya.
Disamping gue tidur wanita yang tadi malam gue punya rencana untuk
mengajaknya berpetualang seks lebih jauh lagi tapi sepertinya waktu
tidak berpihak padaku. Disamping gue telah berbaring, adik tiri gue
sendiri.
Perlahan gue mulai berganti posisi tidur dengan gaya menyamping
sementara hujan masih terdengar dengan kerasnya, tetapi tetap belum
terdengar suara petir seperti yang dikatakan adikku ini.
Gue melihat adikku ini hanya bahunya saja karena memang inilah gaya
tidurnya. Masih jelas diingatan gue, adik gue ini suka tidur dengan kaos
dan short. Itulah yang membuatnya tidak menggairahkan dan seksi karena
tidak ada sesuatu yang tersingkap. Kalau saja dia memakai daster, pasti
akan seksi banget melihatnya dia tidur.
Tapi semua itu tidak membuat pikiran kotor dari kemarin, luruh dengan
sendirinya. Bisa satu ranjang dengan seorang wanita, siapapun itu
orangnya, adalah anugrah dan menimbulkan sensasi.
Tapi cukup waktu lama untuk mengambil keputusan agar merapat mendekat
kepada tubuhnya. Karena hal ini tetap harus diperhitungkan. Kalau pagi
hari menyentuhnya itu karena ada alasan ritual memegang telinga pada
awalnya tetapi pada malam ini, apa alasannya untuk menyentuhnya? Tetapi
otak ini berlogika, tidak mungkin dia tidak tahu apa resikonya mengajak
kakak tirinya ini tidur satu ranjang sepanjang malam ini kalau dia tidak
mempertimbangkan apa yang sudah terjadi pada hari-hari sebelumnya.
Seharusnya, dia pasti sudah mengambil resiko dengan apa yang akan dibuat
oleh kakaknya pada malam ini. Mungkin dia berpikir, lebih takut kepada
setan ditengah malam ini daripada takut kepada kakak tirinya yang sudah
jelas-jelas memiliki nafsu birahi kepada adiknya sendiri.
Dimulailah per jalanan yang menegangkan malam itu. Pertama, gue hanya
menyentuh pinggangnya dengan tangan tanpa melakukan gerakan apa-apa. Ini
hanya mau menguji, apakah dia mau menolak atau hanya berdiam saja.
Sumpah, jantung gue memompa dengan keras karena harus mengalirkan darah
dengan cepat ke penis yang mulai ereksi dan otak yang mulai tegang.
Untuk sekian lama dia hanya berdiam diri saja. Apakah memang benar-benar
sudah tertidur, atau pura-pura tidak perduli dengan tangan yang ada
dipinggangnya? Ini membuat gue semakin tegang karena sudah akan menambah
sentuhan ke jenjang yang lebih tinggi. Kali ini tangan gue mulai
memegang lengan tangannya dan merapatkan tubuh semakin dekat.
Kemudian mulai memberikan kecupan ringan dibagian punggungnya yang
terilindung oleh kaos yang digunakannya. Tidak ada reaksi untuk sekian
saat. Dan itu semakin membuat gue berani untuk melakukan hal lainnya.
Jemari tangan sekarang mulai turun kebawah dan mengelus paha sampingnya
sambil mulai meremas pantatnya, sesuatu yang belum pernah gue lakukan
sebelumnya. Terus kecupan-kecupan singkat dilayangkan dibagian
punggungnya sambil tangan terus menggerayangi bagian pahanya. Sesudah
dirasa cukup waktunya, akhirnya gue menarik pelan tubuhnya yang
menyamping itu agar menjadi posisi terlentang.
Gue menghindari untuk melihat wajahnya secara langsung meskipun kamar
dalam keadaan gelap jadi yang gue lakukan adalah langsung membenamkan
kepala kebagian bawah tubuhnya, tepatnya dibagian paha kebawah, sembari
terus memberikan kecupan-kecupan kering (maksudnya tidak pake lidah
ciumnya) sudah pasti dia kegelian karenanya tapi gue masih tidak pasti
apakah dia kegelian dalam tidurnya atau memang sudah terjaga dari tadi.
Itu tidak penting untuk mengetahuinya, yang penting adalah sejauh ini
adik gue tidak mengadakan penolakan terhadap aksi gue itu. Dan
selanjutnya gue sudah mulai berani merangsek kebagian atas. Gue tetap
menciumi seluruh bagian tubuhnya yang tertutup short dan kaos.
Tapi ciuman itu tidak mengurangi sensasi yang gue rasakan dan tentunya
yang dirasakan olehnya. Apalagi ketika gue sudah tiba dibagian
payudaranya, gue menggigit dengan pelan, meski tertutup kaos dan bra,
tapi dia bisa merasakan sentuhan kecil ini karena sementara tangan gue
juga menelusuri bagian selangkangannya dengan jemari gue ini.
Ada suatu saat ketika gue menekan shortnya dibagian yang gue rasa itu
adalah posisi vaginanya berada, dan yang terjadi adalah, desahan pelan
yang membuat gue semakin berani. Tapi tetap gue belum bertatapan
langsung dengan matanya karena gue sibuk membenamkan kepala gue diantara
dua payudaranya. Gue tetap takut untuk melihat dia secara langsung.
Badan gue ini saja masih belum berani untuk menindihnya seperti
pagi-pagi sebelumnya. Gue bener-bener mau semua berlangsung dengan
lembut dan menggairahkan dirinya untuk menikmati sentuhan selanjutnya.
Dan setelah berlangsung cukup lama foreplay tersebut, gue mulai
menaikkan kepala gue untuk langsung pergi kearah lehernya. Tetap gue
hanya melihat secara sejenak bagaimana adik gue memeramkan matanya dan
gue menikmati hal tersebut, karena kita berdua seakan-akan secara tidak
langsung mengatakan: ini bukan hubungan adik dan kakak.
Ini bukan hubungan terlarang. Ini hubungan yang saling memberi
kenikmatan satu kepada yang lainnya. Dimulailah penjelajahan terhadap
lehernya. Dia menggelinjang setiap gue mengecup dia dengan kecupan basah
(ini baru pake lidah gue) dan sementara tangan gue tetap menjelajah
bagian tubuh lainnya, karena sekarang sudah naik ke payudaranya (gue
menghindari menekan terlalu lama bagian vaginanya karena takut nanti dia
sudah kehilangan sensivitasnya).
Tentu saja tangan gue tidak mau berlama-lama dipisahkan dengan kaos dan
bra, sehingga jemari langsung menyelusup masuk ke bagian dalam kaosnya
(dan gue menghindari tergesa-gesa untuk membuka kaosnya, sampai merasa
yakin banget dia sudah terlena dengan sentuhan gue) jemari gue langsung
mengangkat keatas bra dan langsung meremas payudaranya dengan lembut
sementara bibir sudah mulai naik kebagian bibir adik gue.
Sebelumnya gue tidak pernah mencium adik gue ini tetapi kali ini, ketika
nafsu setan semakin membahana, tidak sempurna kalau gue tidak mulai
melumat bibir dan lidah yang ada didalamnya.
Tentu saja gue memulai dengan mencium pipinya, terkadang tiba-tiba turun
ke leher, ke dagunya dan kemudian ke bagian bawah telinganya lalu baru
ke bibirnya. Dan adik gue tetap dalam keadaaan tertutup mata sembari
sesekali mendengar desahannya yang membuat gue semakin birahi. Tiba
untuk sekarang mengeksplorasi bagian bibirnya: dengan tangan gue pegang
pipinya dan mulai mencium bibirnya, merangsek masuk lidah gue untuk
menyentuh bibirnya tetapi entah kenapa dia tidak membiarkan bibirnya
terbuka.
Tidak kehilangan akal, tangan gue berpindah kearah bagian short bawahnya
dan menekan bagian vaginanya dengan lembut. Ketika dia mengerang dengan
sentuhan tersebut, baru kemudian gue melihat ada celah bibirnya yang
terbuka dan langsung gue masukkan lidah gue kedalamnya. Sungguh, adik
gue ini belum pengalaman untuk berciuman.
Bayangkan dia hanya membuka bibirnya tetapi giginya tetap tertutup
dengan rapat sehingga gue tidak bisa untuk menjangkau lidahnya. Ini
membuat gue semakin gemas dan penasaran, sehiingga akhirnya kalau tadi
gue dalam keadaan disamping tubuhnya sekarang gue meletakkan tubuh gue
keatas tubuhnya dan mencari posisi yang pas untuk meletakkan posisi
penis gue yang mengeras itu agar bisa diletakkan diatas vaginanya.
Gue gerakkan pahanya agar sedikit terbuka sehingga selangkangannya
terbuka agak lebar dan pada saat itulah posisi penis gue taruh tepat
diatas vaginanya. Mungkin tidak tepat sekali, tapi itu cukup untuk
membuat adik gue semakin bergairah dengan sentuhan gesekkan penis gue
disekitar vaginanya.
Dan itulah kesempatan ketika gue membisikkan kata:”Buka mulut kamu ‘de…”
antara sadar dan tidak dia melakukannya, maka lengkaplah sudah lidah
gue mengulum lidahnya dengan leluasa.
Kadang menggigit bibirnya dengan lembut, kadang menari-narikan lidah itu
kebagian dalam mulutnya, mengulum lidahnya, dan juga sembari penis
dibawah tetap digesek-gesekan dengan irama tertentu yang membuat bukan
hanya dia mengerang tetapi gue juga dibuatnya mabuk kepayang. Tetapi
permainan belum lagi dimulai, ini semua baru pemanasan. Karena ketika
gue melihat adik gue mulai terbang dengan serangan atas dan bawah, mulai
gue menarik kaosnya pelan-pelan keatas untuk membukanya.
Tidak sulit untuk melakukan semua itu kalau wanita sudah hampir setengah
sadar dibuat seperti ini. Malahan dengan jelas tangannya turut membantu
untuk membuka kaosnya. Itulah yang membuat gue bertambah berani.
Pokoknya, yang terjadi, terjadilah. Ditengah malam yang gelap dengan
suasana hujan yang turun, kegairahan gue semakin menjadi-jadi.
Gelapnya malam tidak dapat menyembunyikan putihnya tubuh dari adik gue
ini, meski bra masih melekat diatas payudaranya. Gue mulai menciumi
sekujur tubuhnya meski bra menjadi penghalang gue untuk menjilat
putingnya.
Desahan dan desahan terdengar tidak putusnya dan saat itulah yang tepat
untuk melucuti branya yang terkancing di bagian punggungnya dan
mencampakkannya dibawah ranjang. Ohhh… ketika bagian tubuh atas telah
dilucuti, hanya tinggal menunggu waktu untuk bisa melepaskan semua
penutup tubuhnya. Dan langkah pertama adalah melucuti kaos gue sendiri
dengan cepat dan segera merapatkan tubuh gue ke atas tubuhnya.
Biar dia merasakan sensasi kulit kita yang bertemu satu dengan yang
lainnya. Sementara gue dengan perlahan tanpa disadarinya sudah juga
membuka bagian celana gue beserta cd-nya sekaligus. Dalam keadaan
telanjang bugil, nafsu untuk menggauli adik sendiri semakin
menjadi-jadi.
Bayangkan, hanya dengan menjilat putingnya, lalu tiba-tiba naik ke
bibirnya, sementara tangan langsung meremas-remas payudaranya, desahan
kecilnya, lama kelamaan menjadi keras dan mirip seperti sebuah erangan
merintih.
Kencan dengan tidak menggunakan suara memang tidak mengenakkan tapi gue
memang sudah memasang taktik untuk tidak menggunakan suara supaya dia
tidak mendengar suara kakaknya dan membangunkan dia dari
ketidaksadarannya itu bahwa dia sedang digarap oleh kakaknya sendiri.
Yang gue lakukan hanya membalas erangannya dengan erangan gue sendiri
supaya dia juga terangsang mendengar suara gue yang merintih-rintih
kenikmatan.
Tiba saatnya ketika gue harus mengerahkan daya upaya agar bisa melucuti
short dan cd yang dikenakan oleh adik gue ini. Ini bukan pekerjaan sulit
(gue sudah sering melakukannya pada wanita-wanita lain sebelumnya) gue
hanya cukup dengan sabar membuat dia menggelinjang kenikmatan dengan
sentuhan gue dan saatnya tiba ketika gue tidak langsung membuka
celananya tetapi justru menyelusupkan jemari gue masuk kedalam cd-nya.
Gue hanya meletakkan jari gue diatas cdnya dan merasa pasti diatas
vaginanya gue menekan dengan lembut, yang terjadi sungguh sangat
diharapkan, adik gue langsung memegang tangan gue dan menahannya disana.
Ini adalah sinyal positif: saatnya untuk segera membuka shortnya.
Dan itu gue lakukan dengan mudah sekali, karena adik gue juga dengan
cepat turut membantu membuka celana yang dikenakannya. Tetapi gue tetap
tidak mau terburu-buru untuk membuka cd-nya. Melihat adik gue sudah
telanjang, dengan kemulusan yang tidak terkata, itu sudah sangat
menggairahkan buat gue. Tapi gue akan membuat bagaimana supaya dia juga
menginginkan permainan malam itu. Maka langkah selanjutnya adalah, gue
menaruh tubuh gue diatasnya dengan terlebih dulu melebarkan
selangkangannya, dan menjepitkan penis gue diantara kedua pahanya dengan
vagina yang masih terbungkus dengan cd yang dikenakannya.
Lalu kembali tangan gue menyusuri seluruh tubuhnya yang sudah nyaris
telanjang sembari mulut gue kembali menciumi leher, bawah telinga, bibir
dan kemudian mengulum putingnya yang mulai mengeras tetapi yang
sebetulnya membuat dia terlena adalah karena pada saat bersamaan,
dibagian bawah selangkangannya, penis gue naik turun diatas permukaan
cd-nya yang menutupi vaginanya.
Gue terus menggesek-gesek penis gue naik turun diantara selangkangannya,
sambil mendengar desahan nafsu yang tertahan dari adik gue. Tapi sekian
menit gue tunggu, dia tidak juga menurunkan tangannya kebawah untuk
menekan badan gue lebih dalam dan itu bisa saja terjadi karena dia masih
sungkan sebagai adik yang meminta jatah kepada kakaknya walaupun dia
sudah sangat menginginkannya.
Maka yang gue lakukan supaya permainan ini menjadi lebih menarik adalah,
gue turunkan setengah posisi cd yang dikenakannya dan memasukkan penis
gue kedalamnya. Gue sangat mengetahui bahwa itu tidak akan menembus
vaginanya, karena posisinya tidak sangat tepat, tapi memang itu gue
sengaja supaya dia merasakan nikmat yang setengah saja dan membuatnya
penasaran untuk merasakan lebih jauh lagi.
Dan taktik itu berhasil dengan suksesnya. Setelah gue menggesek-gesekkan
penis gue diantara jembut tipisnya, dia mulai merintih dengan
menggoncang-goncangkan tubuhnya secara perlahan, ke kiri kekanan dan
berputar-putar. Sangat erotis! Tidak pernah terbayangkan, adik gue yang
masih kelas 1 SMU melakukan hal ini.
Seks itu memang naluri. Tidak perlu diajarkan sebelumnya tetapi ketika
gairah itu muncul, maka orang bisa melakukan sesuatu yang mungkin tidak
pernah direncanakan sebelumnya. Dan goyangan dia semakin membuat gue
belingsatan, terlebih ketika merasakan ada cairan-cairan disekitar
jembutnya itu.
Tentu saja dia menggoyang karena dia sedang mencari posisi yang pas agar
penis gue bisa masuk kedalam vaginanya. Itu naluri untuk mencari
kenikmatan yang lebih! Tapi tidak akan pernah bisa masuk penis gue
kedalamnya kalau cd-nya belum terbuka semuanya.
Dan memang rencana gue adalah, ketika gue membuka sebagian dari cd-nya,
gue mau dia yang melakukan pekerjaan sisanya. Gue mau membuat dia
merasakan bahwa dia juga menginginkan kejadian malam itu. Dan memang
itulah yang terjadi kemudian.
Dengan reflex yang cepat karena mungkin setelah sekian lama bergoyang
dan menggelinjang tetapi belum merasakan penis gue masuk kedalam
vaginanya, tiba-tiba saja dia memelorotkan celana dalamnya kebawah dan
langsung menekan pantat gue dari belakang dengan kedua tangannya.
Sabar…kembali gue harus bersabar…! Gue yakin meskipun terlihat sudah
mulai liar adik gue ini tapi sesungguhnya gue percaya dia masih perawan.
Gue pasti adalah orang pertama yang akan memerawani dia malam itu tapi
gue mau melakukan semua itu dengan lembut dan berkesan. Dan tidak grasak
grusuk seperti maunya.
Gue tidak mau dia trauma dengan kejadian pertama. Oleh karenanya, gue
tetap menahan pantat gue untuk tidak terdorong dengan tekanan tangannya
yang keras.
Dia tentu saja belum berpengalaman sehingga tidak mengetahui apa yang
akan terjadi kalau gue langsung mencobloskan penis gue kedalam
vaginanya. Yang gue butuhkan adalah kesabaran dan kelembutan dalam
bercinta. Dan caranya adalah gue membisikkan kalimat:”Sabar ya, ‘de…”
Kalimat pertama yang terdengar dari gue sekali lagi, selain suara
erangan-erangan sebelumnya.
Gue ingin memastikan bahwa dia sudah basah, bahkan becek dengan cairan
pelumas disekitar vaginanya. Ini adalah pengalaman pertamanya. Dan gue
harus meyakininya bahwa malam pertama ini akan sungguh sangat berkesan
dengan kenikmatan yang tak terkata.
Oleh karenanya, mulailah gue kembali menggesekkan penis gue diatas
permukaan vaginanya, sambil sesekali mencoba untuk memasukkan penis gue
dengan lembut. Yang terjadi adalah, dia mengerang kesakitan, dan itu
pertanda bahaya.
Karena kalau sampai dia merasakan sakit lebih besar daripada nikmatnya,
maka otomatis, cairan pelumasnya akan berhenti keluar dan akan
menyebabkan vagina yang kering dan susah untuk dimasuki. Jadi yang gue
kerjakan adalah mengeluarkan segenap kemampuan untuk terus membuatnya
terangsang dengan lidah, tangan dan penis yang menjelajahi seluruh
tubuhnya.
Semakin dia terangsang, semakin basah dan becek disekitar vaginanya, dan
itulah saat yang tepat untuk sekali-sekali menghunjamkan penis gue
kedalam vaginanya.
Pertama-pertamanya agak sulit untuk menembus keperawanan dari adik gue
ini tetapi dengan kesabaran gue melakukan semua ini dengan segenap hati.
Seperti misalnya, kalau gue anggap perlu, gue turunkan kepala gue
kedaerah selangkangannya dan kemudian tanpa ragu menjilat vaginanya.
Jujur, gue sebetulnya jijik melakukan hal ini tapi demi membuat agar dia
terus terangsang, dengan senang hati gue melakukan pengorbanan ini.
Cukup lama untuk bisa menembus hutan belantara keperawanan adik gue ini,
tetapi dengan rangsangan bertubi-tubi yang sudah dipersiapkan, yang
mulanya masih didepan, sekarang perlahan-lahan ****** gue sudah mulai
menancap masuk kedalam.
Dan nikmat yang gue rasakan bukan karena penis yang sudah menembus
vaginanya tetapi justru karena erangannya yang merintih dan gelinjangan
tubuhnya yang erotis. Dari pengalaman sudah diketahui bahwa tidak pernah
penis bisa menikmati vagina dengan indahnya pada pertemuan pertama.
Yang penting, selama hantaman penis ke vagina adik gue itu tidak
membuatnya sakit yang parah sehingga membuatnya trauma untuk bersenggama
lagi, bagi gue itu sudah cukup berhasil. Dan malam itu berakhir dengan
tumpahan sperma gue disekitar perutnya tanpa merasakan kenikmatan yang
dahsyat seperti kalau gue bersetubuh dengan wanita lainnya yang
berpengalaman.
Ada yang aneh ketika gue harus mengakhiri permainan malam itu. Gue
merasa aneh harus menyeka sperma diatas tubuhnya dengan kaos gue dan
harus membisikkan:”Pake bajumu ya ‘de…” dan kemudian gue dengan
berjinjit keluar dari kamarnya malam itu dengan perasaan berdosa. Tapi
dosa ternyata menyebar dengan cepat.
Besoknya, dengan sengaja gue tidak menjemput adik gue pulang walaupun
sebetulnya ada kesempatan. Gue tidak menginginkan bertemu dengan dia
tapi tidak mengetahui apa yang harus dibicarakan. Gua hanya mau bertemu
dengan dia dengan menggunakan bahasa tubuh saja.
Dan itu artinya, pada malam berikutnya, mumpung adik gue masih tidur
sendiri, tunggu hingga jam satu pagi, baru gue berani memberanikan diri
untuk menyelinap ke kamarnya dengan keyakinan, kali ini hanya pintu
kamarlah yang menjadi tanda diantara kita berdua.
Kalau dia tidak menguncinya, itu berarti dia memang menginginkan
kedatangan kakaknya di tengah malam untuk mengulangi hal yang pasti
dianggapnya luar biasa tadi malam. Tapi kalau dia mengunci kamarnya, itu
berarti, kejadian tadi malam hanyalah kecelakaan semata.
Tentu saja sangat menegangkan untuk mengetahui apakah pintu terbuka atau
terkunci. Tetapi yang pasti, ketegangan itu sudah sangat berkurang
drastis karena gue sebelumnya malam itu sudah bermasturbasi dengan
suksesnya sebelum mengendap-endap menuju kamar adik gue.
Dan ketika gue membuka gagang pintu dan mendorongnya, ternyata pintu
bergerak kedalam, dan itu artinya…..jantung gue kini bergemuruh dengan
hebat! Masih belum bisa menerima kenyataan bahwa ternyata adik gue
sengaja tidak mengunci pintu kamarnya yang artinya, dia memang sedang
menunggu kakaknya yang cabul ini masuk kedalam kamar dan akan
melanjutkan permainanan malam sebelumnya yang belum mendapatkan
nikmatnya.
Mungkin karena terlalu lama menunggu, adik gue memang sepertinya
benar-benar tertidur. Ini terlihat dari posisi tidurnya yang terlentang.
Dalam keadaan seperti ini, gue tidak mau membuang-buang waktu lagi. Gue
yakin sekarang bukan saatnya lagi untuk foreplay dengan durasi yang
lama. Gue dengan polosnya langsung membuka seluruh baju gue dan celana
beserta cd-nya.
Gue merasa yakin, kali ini adalah permainan seks yang memang bergayung
sambut. Jangan membuang waktu lama untuk hal-hal yang sudah dilakukan
tadi malam. Sekarang hanya melanjutkan saja apa yang telah terjadi pada
malam sebelumnya. Yang dilakukan adalah, dengan tubuh telanjang,
langsung tidur disamping adik gue dan langsung pelan-pelan menurunkan
shortnya. Ada sedikit pergerakan darinya, tetapi seperti antara sadar
dan tidak sadar.
Setelah shortnya dilucuti, jemari gue menekan bagian vagina yang
ditutupi cd-nya. Ada sedikit gerekan menggelinjang. Dan kini tiba
saatnya untuk untuk menciumi lehernya yang tak terlindung sembari naik
perlahan kearah bibirnya. Tidak ada perlawanan. Malah sepertinya ketika
bibir gue tiba di bibirnya, dia sudah membuka bibirnya dengan otomatis
menjulurkan lidahnya. Tunggu apa lagi.
Langsung melumat bibirnya sembari tangan kembali meremas payudaranya
yang tertutup kaos. Tidak sabar lagi, gue langsung menindih tubuhnya
dengan tubuhku dan seperti biasanya meletakkan posisi penis tepat diatas
vaginanya sambil menggesekkannya meski tertutup cd-nya. Gue suka dengan
gaya yang bikin penasaran ini.
Karena kemudian adik gue akan mulai menggoyangkan dengan pelan tubuhnya
dan tanpa membuang waktu gue langsung membuka kaos dan bra-nya. Gue
sudah telanjang bulat dari pertamanya tapi dia masih tersisa cd dan
tugas gue selanjutnya adalah memastikan bahwa dia akan benar-benar basah
hingga becek sehingga penelusuran lubang vagina oleh penis gue akan
berjalan lebih nikmat dari pada malam sebelumnya.
Dan seperti taktik gue sebelumnya, gue tidak akan pernah mau membuka cd
wanita sebelum dia memang menginginkan untuk dilucuti, bahkan lebih
bagus lagi kalau dia sendiri yang melucuti.
Jadi yang gue lakukan adalah menggerayangi tubuhnya dengan lidah basah
sembari tangan terus meremas-remas payudaranya. Memastikan bahwa kedua
puting payudaranya menjadi keras adalah pekerjaan susah. Padahal menurut
pengalaman, disitulah letak seorang wanita benar-benar birahi.
Terkadang kita sentuh bagian kiri, mengeras tapi bagian kanannya tidak
dan begitu sebaliknya.
Gue tidak mau menggarap seorang wanita sebelum dia betul-betul
menginginkannya. Dan ketika semua sudah berjalan dengan sesuai rencana.
Maka gue membisikkan kalimat:”Kita harus pindah ke lantai, ‘de…”
Sebetulnya ini adalah permintaan yang beresiko, karena alam bawah
sadarnya kembali terjaga sehingga dia bisa saja menolak pindah. Tapi gue
memang benar-benar sudah memperhitungkan segala sesuatu dengan cermat.
Gue tidak mau lagi hebat-hebatnya bergoyang dan terganggu oleh karena
bunyi derit tempat tidur yang bisa membangunkan kakak dan keponakan gue.
Langsung gue melemparkan selimut dan bantal kebawah lantai dan
menariknya turun kebawah.
Dia hanya menurut saja dan itu adalah anugrah. Sehingga dengan
beralaskan selimut saja, walaupun kerasnya lantai tidak mengurangi
semangat kita berdua untuk memulai petualangan yang lebih hebat dari
sebelumnya. Dan itulah yang terjadi: gue langsung kembali mencium bibir
dan melumat lidahnya.
Menindihnya dengan tubuh gue yang langsung menyelipkan ****** diantara
kedua pahanya. Menggesekkannya dengan lembut sembari tangan memainkan
payudara beserta putingnya.
Dalam hati gue bersyukur juga, menikmati tubuh mulus adik gue ini
seperti suatu mukjizat. Mana pernah ada pengalaman bisa mengadakan
hubungan seks dengan keluarga sendiri, meskipun itu hanyalah adik tiri.
Sepertinya takut dosa sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah nafsu yang
membara untuk menggarap tubuhnya ini dengan tekad untuk memberikannya
kepuasan yang tidak terkira.
Mungkin karena sebelumnya sudah masturbasi, sehingga permainan gue agak
sedikit lembut dan penis berdiri tidak begitu kencang. Dan ini sangat
menguntungkan gue karena gue jadi bisa mengendalikan permainan. Yang
terjadi adalah, adik gue memburu dengan sedikit malu-malu sementara gue
seperti berkesan jual mahal.
Tapi sampai kapan ini akan bertahan? Ketika tiba saatnya ketika gue
mulai melucuti perlahan cd adik gue ini kebawah, nafsu birahi gue seakan
tiba-tiba muncul. Entah kenapa gue bertindak liar dengan menarik cd itu
dengan gigi gue kebawah dan kemudian langsung mengarahkan lidah gue
kearah vagina adik gue.
Gue hanya menciumnya sesaat, karena memang bukan ciri gue untuk menjilat
vagina wanita, gue hanya mau memastikan bahwa vaginanya cukup pelumas
untuk segera ditancapkan penis gue kedalamnya. Tapi itulah gue, selalu
membuat wanita penasaran.
Gue tetap hanya menyenderkan penis gue keatas vaginanya tanpa bermaksud
memasukkannya sementara gue pura-pura sibuk untuk mengulum bibir dan
lidahnya sambil mendekap tubuhnya dengan kedua tangan gue.
Justru adik guelah yang sibuk menggoyangkan tubuhnya supaya ****** gue
bisa menghujam kemaluannya. Dan gue tidak membiarkan dia berlama-lama
melakukan itu karena gue kemudian berbisik kepadanya:”Kamu mau ‘de..”
dengan tenangnya gue bertanya. Seperti tersekat ditenggorakan
jawabannya:”Terserah kakak…”
Inilah saatnya gue menunjukkan kepada adik tirinya, siapa gue
sebenarnya. Dengan sigap gue sekarang memegang ****** gue dengan jari
gue dan mulai membelai-belai permukaan vaginanya dengan penis gue. Itu
sangat membuat wanita manapun akan bergairah untuk mengeluarkan lebih
banyak lagi pelumas cairannya.
Dan erangan yang keluar dari adik gue semakin membuat gue semangat untuk
terus menggesek-gesekan ****** gue di atas permukaan vaginanya. Ketika
dirasa cukup licin, mulai pelan-pelan gue dorong ****** ini dengan
tangan gue masuk kedalam vaginanya.
Itu cukup untuk membuat tubuh adik gue terdorong kebelakang karena
mungkin sakit dan nikmatnya bergabung menjadi satu. Kalau sudah begitu
gue akan menarik kembali keluar ****** gue dan kemudian memasukkannya
kembali perlahan. Kembali tubuh adik gue terdorong kebelakang tetapi
sekarang sudah tidak sekeras sebelumnya.
Dalam hati gue, ini harus menjadi lebih baik dari pada malam sebelumnya.
Lalu secara konstan, gue mulai memasuk-keluarkan ****** gue kedalam
setengah lubang vaginanya, hanya untuk memancing agar cairan pelumasnya
terus keluar dengan lancar. Itulah yang terjadi beberapa saat kemudian,
ketika gue mulai merasakan bahwa lubang ini sudah mulai lancar untuk
terus dipompa keluar masuk ****** gue.
Akhirnya gue melepas jari gue dari ****** dan membiarkan ****** gue
mencari sendiri jalan masuk lobang kedalam vagina adik gue dan sekarang
saatnya tangan gue akan memindahkan sentuhannya ke payudara adik gue.
Sambil memeras payudaranya, gue secara perlahan menggenjot pantat gue
naik turun membenamkan ****** gue kedalam memeknya.
Bisa dipastikan terjadi erangan yang lebih hebat dari sebelumnya keluar
dari mulut adik gue, tetapi dengan sigap gue tutup kepalanya dengan
bantal agar erangannya tidak terdengar. Dari yang pertamanya masih
seret, tetapi lama kelamaan sudah mulai lancar masuk keluarnya ******
gue didalam memek adik gue ini.
Ini tentu saja akan membuat gue untuk terus menuntunnya kepermainan yang
lebih nikmat lagi. Dan dimulailah gue mengangkat satu kakinya untuk
disilangkan dan gue juga menyilangkan kaki gue untuk mengajarkan padanya
******* dengan gaya bintang.
Gue suka banget gaya ini dan gue mau adik gue merasakannya juga. Gue
merasa gaya ini betul-betul bisa menjebloskan seluruh ****** kita
kedalam memek wanita yang kita garap. Adik gue hanya menurut saja
permintaaan gue dengan tatapan yang aneh. Gue tetap risih melihata
tatapannya tapi selama dia masih bersedia untuk digarap, gue tidak
perduli.
Maka selanjutnya yang terjadi adalah, gue mengocok seluruh tubuh gue
dengan gaya bintang kedalam memeknya. Tentu saja kali ini dia bukan lagi
mengerang dibuatnya tetapi sudah sedikit berteriak. Gue terganggu
dengan teriakannya sehingga gue menurunkan tempo goyangannya tetapi yang
terjadi justru dia yang mengocoknya dari bawah sembari menutup sendiri
mulutnya dengan kedua tangannya supaya teriakan yang keluar tidak
terdengar.
Gila, gue bener-bener horny sekarang kalau membayangkan apa yang terjadi
pada waktu itu. Permainan dengan seorang perawan selalu mengejutkan
pada kali yang kedua. Tetapi yang lebih mengejutkan disini adalah gue
memerawani adik gue sendiri. Gilanya kita bisa bersetubuh hingga
berjam-jam malam itu, hingga dia bertanya, apakah semua cowo seperti ini
kuatnya. Gue hanya tersenyum tanpa memberitahu bahwa rahasianya adalah
gue sudah masturbasi sebelumnya, makanya tidak muncrat-muncrat pada
malam itu.
Itu ternyata sangat berkesan didalam dirinya, sehingga kemudian,
diwaktu-waktu selanjutnya setiap ada kesempatan yang memungkinkan kita
berdua melakukan perbuatan bejat ini tanpa ragu-ragu lagi. Bahkan
pernah, ketika kita berdua mengikuti camping bersama disuatu tempat,
pada siang hari kita ******* di dalam tenda tanpa ada yang mengetahui.
Siapa yang mau curiga, kalau mereka tahu si Bella adalah adikku sendiri.
Seorang adik tiri yang akhirnya menjadi gila seks karena diajarkan
berbuat nafsu bejat itu oleh kakaknya sendiri yang berawal dari sentuhan
di telinga.
Cerita Sex Sedarah
Cerita Dewasa Terbaru 2013 ; Kenikmatan Saat Pernikahan Putriku tercinta - Ketika aku mendekati pintu, suara-suara yang gugup semakin terdengar lebih jelas. Mantan istriku, Wati, yang kuceraikan delapan tahun yang lalu sedang memberikan perintah-perintahnya pada seseorang. Aku mendengar suara tawa yang renyah dari putri bungsuku, Erna yang berusia sembilan belas tahun, dan protes dari kakaknya, Endang, sang pengantin wanita.
Dalam usianya yang ke-dua puluh satu tahun, muda dan keras kepala, saat menceritakan padaku kalau dia akan menikah, aku terdiam merasa kecewa dan terguncang, tapi aku menyembunyikannya dengan mendoakannya keberuntungan yang terbaik dan sebuah kehidupan yang selalu bahagia. Suara yang lain tidak aku kenal dan kutebak kalau itu adalah suara para pengiring pengantin, gugup dalam kebahagiaan mereka untuk yang lain, barangkali menantikan hari mereka sendiri.
Kurapikan dasi kupu-kupuku dengan bercermin di gang, aku melihat bayangan diriku dalam cermin, mengerutkan dahi merasa tak nyaman memakai pakaian resmi yang membatasi ini. Kuperhatikan diriku, rambutku masih terlihat hitam dan bersyukur karena kulihat bahwa sama sekali belum ada uban di usia empat puluh satu tahun ini. Wajahku terlihat keras karena tahun-tahun travellingku dan sering keluar masuk di lingkungan yang keras yang notabene penuh asap dan alkohol. Dan ketika aku mempelajari mata lelaki dalam cermin ini, aku mendapatkan gambaran akan kehidupan yang menghantarku hingga di sini. Aku jumpa Wati istriku saat kami berdua masih terlalu muda untuk membedakan mana yang baik, dan dia meyakinkanku si pemain gitar ini bahwa kami berdua akan bisa menaklukkan kerasnya dunia.
Dia adalah lulusan sebuah perguruan tinggi dengan pekerjaan tetap dan aku adalah seorang lelaki yang pergi bertualang dari kota satu ke kota lainnya berkeliling negeri ini. Anak-anak gadis kami lahir di awal perkawinan, yang membuat kami masih bertahan bersama sekitar lima tahun lamanya hingga akhirnya kami berdua menyadari bahwa hubungan ini sudah tak dapat dipertahankan lagi. Dia bertemu dengan seorang pria lain yang mempunyai sebuah kehidupan yang stabil, yang menurutnya akan lebih baik untuk kehidupan kedua putri kami.
Perceraian datang dan terjadi seperti perkiraan kami dan aku masih menetap di dekat mereka selama beberapa tahun sampai memperoleh sebuah lompatan besar sebagai pemusik studio di ibu kota. Sejak saat itu, aku mencoba yang terbaik agar tetap bisa berhubungan melalui telepon, lewat kiriman foto, dan tour keliling yang sekali-kali singgah di dekat situ. Dan saat aku menatap dalam kaca, aku melihat sebuah penyesalan yang terpancar ke luar.
“Ayah, apa yang Ayah lakukan?”
Aku kembali pada kesadaranku oleh suara putriku, Erna. Dia terlihat cantik bahkan di saat memakai baju pengiring pengantinnya yang menggelikan itu. Kulitnya yang kuning langsat dan rambutnya yang hitam pekat terlihat kontras dibandingkan dengan warna metalik dari pakaian itu. Dia tersenyum dalam kecantikannya yang lugu dan menatapku dengan bingung.
“Hanya mengenang masa lalu,” kataku.
“Saat seperti ini membuat kamu berpikir kalau kamu telah membuat keputusan yang salah. Bagaimana itu mempengaruhi hidup orang lain.” Dia menghiburku dengan pelukan dan mengusap bahu dan punggung lenganku.
“Ayah lakukan apa yang harus Ayah lakukan,” dia berkata.
“Aku tidak memusuhi Ayah. Aku akan melakukan hal yang sama bila berada dalam posisi tersebut. Aku akan lebih memilih pengalaman hidup dari pada mengambil keputusan seperti yang diambil Ibu.”
Pijatannya yang lembut menenangkan keteganganku, dan saat aku telah menjadi lebih santai aku sadari betapa aku menikmati dadanya yang menekan tubuhku. Dengan tinggiku yang sekitar dua belas centimeter lebih tinggi daripada Erna, aku menggerakkan tanganku dari punggungnya yang kecil naik ke bahunya yang telanjang dan menekannya agar merapat padaku. Dia membalas memelukku erat dan tersenyum dengan tidak berdosa. Kutundukkan kepalaku, dan memberinya sebuah ciuman ringan di atas dahinya, tetapi dia malah berjinjit pada jari kakinya dan dengan cepat menemukan bibirku.
“O-o.., sebaiknya Ibu tidak melihat. Dia mungkin akan cemburu. Atau Endang, mungkin.” dia tertawa genit. Aku tersenyum pada kelakarnya dan ketika dia berjalan sepanjang aula, aku tidak bisa mempercayai reaksinya pada perlakuanku yang dengan pelan memukul pantatnya.
“Mungkin nanti, Ayah bisa mencobanya saat aku tidak memakai pakaian gembung ini.”
Gaunnya turun hingga ke bawah lututnya dan itu terlihat indah, kaki-kaki itu laksana sebuah magnet yang membuat mataku lengket selalu menatapnya saat menggerakkan keindahan ini, saat wanita muda itu melenggang pergi. Aku membayangkan pantat yang manis dan kencang yang dia miliki. Aku juga membayangkan seperti apa rasanya pantat itu di dalam tanganku ketika dia menungganginya naik turun pada penisku, meneriakkan dengan histeris, “Setubuhi aku, Ayah. Setubuhi putri kecilmu. Masukkan penismu dalam vagina panas putrimu.” Saat kepergok sedang memandangi dan mengkhayalkannya, aku melihat ke arah putriku yang menengok ke belakang. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat dia berbelok di ujung gang itu.
Kembali ke kenyataan, aku akan mengetuk pada pintu di mana pengantin wanita sedang bersiap-siap ketika mantan istriku Wati membuka pintu itu dan keluar.
“Rudi, kita harus bicara.” dia berkata dalam sebuah nada yang memperingatkan. Aku bergeser dari pintu untuk memberinya ruang.
“Endang ingin agar Anton yang berjalan di sepanjang karpet itu. Sekarang, kamu benar-benar tidak punya alasan untuk mengganggunya.”
“Aku tidak peduli,” aku menjawab deklarasinya. Aku merasa terluka, tapi rasa bersalahku akan kehidupanku berkata bahwa ini adalah konsekwensi dari keputusan hidupku yang lain.
“Aku harap aku bisa bicara dengannya sebelum upacara,” kulirik arlojiku. Masih ada waktu satu jam.
“Aku ingin meluruskan beberapa hal. Ingin mendoakan keberuntungannya. Hal-hal seperti itulah.”
“Itu bukan ide yang baik,” kata Wati.
“Dia sedang bingung dengan siapa dia akan berjalan di karpet itu nanti. Dia terlalu emosional dan gelisah sekarang. Aku bilang padanya bahwa dia sudah membuat keputusan yang benar dan kamu akan memahami itu.”
Aku tidak ingin membuat masalah, dan aku bisa lihat aku tidak akan berusaha melewati sang penjaga pintu, maka kuanggukkan kepalaku dan berbalik. Aku berjalan ke dalam ruangan di mana sang pendeta sedang bersiap-siap dan berbicara dengannya untuk beberapa menit sebelum dia pergi untuk meyakinkan para pelayan altar agar tahu apa yang harus mereka lakukan. Dia berkata bahwa aku boleh tetap berada di sini jika aku ingin, kuambil tawarannya dan duduk pada sofa kulitnya menghadap jendela dan melihat orang-orang yang memakai setelan jas resmi dan gaun pesta ke dalam gereja. Pintu terbuka dan menutup di belakangku. Mengira kalau yang masuk adalah sang pendeta, aku berdiri dan bertanya..
“Apa pekerjaan mereka beres?”
“Beres?” tanya Erna.
“Ah. Aku pikir kamu si pendeta.” dia tertawa.
Erna menggantikan tempatku di sofa ketika aku berjalan di sekitar jendela dengan membayangkan hubungan seks sedarah kami. Kakinya bertumpu pada meja kopi di depan sofa menekuk lututnya saat dia mengayunkannya maju mundur, membuka dan menutup. Gaunnya yang mulai tersingkap ke atas pahanya yang memperlihatkan lebih banyak bagian dari paha dalamnya. Gaunnya tersingkap hingga di atas lututnya, suaranya menggesek maju mundur menyelimuti detak jantungku yang terus meningkat. Aku berjalan semakin dekat untuk senyuman lezat yang ingin kucicipi itu tetapi sadar kalau aku tidak bisa melakukannya.
Putriku yang berumur sembilan belas tahun itu sedang menggodaku. Aku sering melihat ‘groupies’ untuk mengetahui tentang apa arti dari godaan, tetapi groupies lebih blak-blakan. Semua orang tahu apa yang mereka inginkan. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini, kami berdua tahu apa yang akan terjadi. Aku yakin kami berdua bukanlah orang ’suci’. Tapi godaan ini tak akan berakibat apa pun. Tidak ada apa pun yang bisa. Itu salah. Kami tidak bisa membiarkan sesuatu itu terjadi. Sesuatu yang bersifat seksual.
Dia membuka kakinya lebih lebar, seperti sebuah undangan agar datang menikmatinya. Gaunnya bergerak lebih tinggi dan aku menangkap sebuah pandangan sekilas dari sabuk stocking yang membungkus di sekitar paha indahnya. Erna menurunkan kakinya ke lantai dan aku takut kalau aku akan menerkamnya, aku telah berbuat keterlaluan dengan nafsu pada keindahan pahanya. Paha yang aku inginkan untuk melingkari tubuhku, yang kutelusuri dengan tanganku. Tetapi dia masih tersenyum saat aku memandangnya, memainkan pikiranku. Dia ingin agar aku duduk pada meja di depannya dan aku melakukannya, tidak ingin mengecewakan wanita muda ini.
“Tetaplah di sini,” dia berkata.
Aku mematuhi dan menutup wajahku dengan tangan, berusaha meredakan pikiranku yang penuh gairah. Aku ingin kehangatan dari seorang wanita, dan aku ingin merasakan kehangatan itu pada penisku. Aku ingin dadanya di tanganku, pahanya bergesekan dengan milikku. Aku menginginkan perhatian dan cintanya. Itu salah, atau kira-kira itulah yang mereka katakan, untuk bernafsu pada wanita yang aku inginkan. Tetapi melihatnya mengayunkan paha, menggesekkan ke depan dan ke belakang, membayangkan itu adalah vaginanya yang menggesek, menelan penisku, merintih dengan penuh gairah ketika aku memompa keluar masuk tubuhnya, aku telah sampai di garis tepi itu.
Tanganku menutupi wajahku, pikiranku menjadi liar. Aku mendengar suara pintu di seberang ruangan ditutup di belakangku yang diikuti oleh suara mengunci pintu itu. Sepertinya ada dua orang di sana. Aku mengintip dari tanganku dan melihat seorang pengantin wanita yang paling cantik dalam hidupku. Tingginya yang sama dengan adiknya, dia mempunyai sebuah wajah yang sama cantiknya dan bentuk tubuh sempurna yang tak berbeda. Jika rambutnya tidak lebih panjang, pasti akan sulit untuk membedakan mereka. Aku berdiri, penisku masih keras tapi tersembunyi oleh pakaian resmi yang kupakai. Malu dengan pemikiranku akan Erna, aku mendekati Endang yang mengenakan gaun pengantin anggun, menggairahkan.
“Sayang, kamu cantik sekali,” kataku.
Paha Endang yang terlihat menyembul dari balik gaun putihnya hampir membuatku meledak di dalam celana dalamku. Jasku sedang dibuka oleh seseorang di belakangku. Aku menoleh dan menemukan Erna. Keinginan yang penuh gairah kembali lagi. Endang tersenyum pada Erna dan melihat mata Endang, aku tahu putri bungsuku pasti tersenyum juga. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..
“Ayah,” dia berkata.
“Ayah yang manis, lembut..”, katanya lagi.
Dia bergerak semakin dekat kepadaku seiring kurasa tangan Erna mengelus lenganku kemudian menyeberang ke dadaku. Aku pikir aku sedang bermimpi dan aku ingin terbangun agar aku bisa segera melakukan masturbasi dan mengeluarkan bayangan ini dari pikiranku. Tapi ini bukan sebuah mimpi.
“Aku tahu Ayah merasa bahwa sepertinya Ayah sudah menelantarkan kami. Tapi, kami tahu bahwa Ayah sudah mencoba yang terbaik. Kami tahu bahwa Ibu saja yang sulit menerimanya.”
“Kami mencintai Ayah. Waktu yang pernah kita lewati bersama sangat berharga.” Erna menambahkan ketika dia tetap membelai dadaku, kemudian dia dengan lembutnya mencium leherku. Nafasnya yang halus menggetarkan tubuhku.
“Sebenarnya, kami sangat menginginkan Ayah,” kata Endang saat dia telah dengan sepenuhnya merapat.
“Ini adalah khayalanku,” katanya sebelum dengan singkat mencicipi bibirku.
Tanganku bergerak ke bawah gaun pengantinnya, meluncur di atas kedua pahanya. Dagingnya yang halus tidak mengenakan stocking. Saat tangan kiriku mencapai kelembabannya, rambut kemaluannya, aku tahu dia ingin disetubuhi. Penisku semakin keras saat lidah bernafsu Endang menjadi lebih agresif dan mengatakan padaku bahwa penis Ayahnya inilah yang dia inginkan di dalam vaginanya.
“Katakan pada Ayah betapa kamu sangat menginginkan dia, Endang.”
Erna sudah pindah dari belakangku ke belakang Endang. Saat aku sedang mengelus paha Endang dengan satu tangan dan menggoda bibir vaginanya dengan jari dari tangan yang lainnya, Erna sedang mengelus dada kakaknya dan mencium lehernya dan memegangi telinganya. Kemudian aku merasa tangan Erna bergabung dengan tanganku dalam merasakan vagina kakaknya yang basah.
“Ohh, ya, Ayah,” erang Endang lirih. Celana dalamku terlepas dan putriku mendapatkan penisku di dalam genggaman tangannya. Dia menyeka beberapa precum dengan jarinya dan menghisapnya ke dalam mulutnya sebelum menarikku kembali dalam sebuah ciuman.
“Aku ingin Ayah menyetubuhiku, Ayah. Setubuhi gadis kecilmu yang nakal ini.”
Vagina Endang yang panas adalah hal terbaik yang pernah dirasakan jariku, dan saat dia menjauh, mereka dibuatnya sedih. Tetapi dia lalu duduk di atas sofa, lutut ditekuk dan kaki mengangkang terbuka, seperti yang dilakukan Erna sebelumnya. Dia menyingkap gaunnya hingga dapat kulihat gundukan dagingnya yang menggairahkan di bawah gaun pengantinnya. Erna memanfaatkan kesempatan yang ditinggalkan kakaknya untuk berlutut dan mengambil penis kerasku ke dalam mulut mudanya. Aku membungkukkan kepalaku dan membelai rambutnya saat dia menghisap batang tebalku. Melalui mataku yang hampir terpejam, aku bisa melihat Endang yang memainkan kelentitnya, menjilat sari buahnya.
Endang tidak bisa membendungnya lagi, dan tak pasti berapa lama hisapan adiknya yang sempurna ini sanggup kuhadapi, sebab dia perintahkan padaku agar datang padanya.
“Kemarilah dan setubuhi aku, Ayah. Aku ingin penis besar Ayah di dalam vagina panasku sekarang. Aku ingin kita keluar bersama.”
Erna mendengar rintihan kakaknya dan melepaskanku dari genggamannya, mendekat ke Endang. Kedua putriku mulai saling mencium, Erna memberi kakak kandungnya sebuah rasa dari apa yang akan segera dialami vaginanya. Aku bergerak di antara paha Endang, meluncurkan tanganku pada daging yang paling berharga yang kutahu, putriku.
“Ohh, Sayang. Kamu sangat indah. Ayah tidak bisa mencegahnya. Penisku terasa sakit karena kamu.” Aku mengagumi kecantikan dan keindahannya dan mendekatkan wajahku pada vagina basahnya. Sari buahnya sangat merangsang dan lidahku melingkari bibirnya, mengambil cintanya di dalamnya.
“Ohh, Ayah,” desahnya saat aku menyisipkan lidahku sedalam-dalamnya, kemudian menarik keluar dan mencicipi daging yang melingkupi kelentitnya.
“Aku sangat ingin Ayah menyetubuhiku.”
Penisku tidak bisa kutahan lagi. Aku harus merasakan kehangatan putriku pada penisku. Aku bangkit dengan perasaan yang sangat bersemangat mendapatkan seorang wanita muda yang dengan sepenuhnya mengharapkanmu dalam hidupnya dan melihat Erna yang sedang menghisap puting susu kakaknya. Kupegang penisku mengarah ke daging basah Endang yang membuka, merasakan darahku terpompa di bawah jariku. Pelan-pelan kuselipkan dalam sebuah dorongan pendek, kehangatannya terasa berlimpah saat aku mempertimbangkan konsekwensi tindakan terlarang ini. Aku menginginkan wanita muda ini, putri kandungku sendiri.
Endang melingkarkan kakinya di punggungku, seolah-olah merasakan keraguanku, dan menarikku dengan penuh ke dalamnya.
“Kumohon, setubuhi aku. Ohh Tuhan, penis besar Ayah terasa hebat. Keluarlah di dalamku, Ayah. Aku ingin merasakan sperma Ayah menetes ke kakiku saat aku katakan janjiku di depan pendeta.”
“Ohh, sayang. Vaginamu sangat panas dan ketat di penis besar Ayah. Ini adalah vagina terbaik yang pernah kurasakan. Ayah ingin menyetubuhi kedua putriku melebihi apa pun di dunia ini.” aku memompanya dengan penuh cinta, tetapi perasaan ini tumbuh terlalu liar untuk dikendalikan.
“Katakan kamu ingin Ayahmu bagaimana, Sayang.”
“Ohh Tuhan. Aku keluar Ayah. Keluarlah bersamaku.” pinggulnya menusukkan vaginanya lebih ke dalam penisku.
“Setubuhi putrimu lebih keras,” Erna memerintahkan.
Aku memandang dari nafsu kusamku untuk melihat kedua anak gadisku saling melilitkan lidahnya dalam mulut mereka satu sama lain.
“Vaginamu sangat nikmat di penis kerasku, sayang. Ayah akan keluar. Aku mencintaimu sayang.”
Lalu, kedua tubuh kami meledak dalam sebuah orgasme yang tak terkendalikan. Gelombang demi gelombang spermaku kupompa ke dalam putriku, vaginanya memijat keluar tiap-tiap tetesan akhir, kakinya menekan pantatku merapat kepadanya. Kemudian penisku mengecil di dalam vagina Endang, dan aku memberinya sebuah ciuman penuh kasih.
“Aku mencintaimu, Endang. Akan kulakukan apa pun untukmu. Untuk kalian berdua.”
“Itu bagus,” kata Erna saat dia melangkah keluar dari pakaian pengiring pengantinnya, bra hitamnya dan sepatu bertumit tinggi yang dia kenakan, sangat cocok padanya.
“Sebab aku mulai cemburu melihat penis besar Ayah di dalam vagina Kakak.” dia menggantikan posisiku di antara kaki kakaknya ketika aku bergeser ke samping.
Putri-putriku yang nakal mulai saling berciuman dan aku memindahkan meja menjauh agar aku dapat berdiri di belakang Erna. Endang melepaskan bra adiknya yang memberi efek langsung pada penisku yang mengeras, tetapi itu masih belum sepenuhnya siap benar. Tanganku mengelus pinggul Erna ketika aku menggosokkan penisku pada pantat dan sela pahanya. Aku merasa dia akan bangkit, maka kuberi ruang padanya saat aku menyadari bahwa dia sedang turun pada kakaknya.
Mata Endang terpejam, tapi aku bisa melihat kesenangan yang murni pada wajahnya ketika adiknya mencicipi campuran dari orgasme adik dan ayahnya. Erna telah siap untuk disetubuhi. Dia membentangkan kakinya terpisah dan dengan sepatunya yang bertumit tinggi dan kepalanya turun pada kakaknya, pantatnya bergoyang dengan sempurna. Aku harus mencicipinya dulu. Maka aku turun ke atas lantai di antara kakinya, dan mengangkat kepalaku ke atas, mulai menjilati vagina basahnya. Dia membantuku dengan satu jarinya yang menggosok kelentitnya ketika aku menjilat ke dalam bibir vaginanya.
Rintihannya mengirimku ke garis tepi itu. Kami semua tidak mampu membendungnya lagi. Aku bangkit di belakangnya dengan tanganku memegangi pinggulnya, masih mengayun dan kakinya lebih jauh terpentang, lidahnya masih memberi kenikmatan pada kakaknya lebih lagi. Aku menatap pahanya, ditopang oleh tumitnya, dan teringat dia saat berjalan di sepanjang aula itu. Dengan memejamkan mata, aku menarik kami bersama, penis gemukku menekan jauh ke dalam vaginanya yang hangat dan basah.
“Ohh, Erna.” aku mengerang dalam masing-masing ayunanku yang lembut.
“Sayang, kamu sangat seksi.” tanganku meremas pantat dan pinggulnya yang bergerak seiring ayunanku.
“Melihatmu mengoral kakakmu membuat Ayah akan keluar lagi.”
“Ayah, penis besar Ayah terasa sangat nikmat bergerak keluar masuk. Pelanlah agar kita dapat keluar bersama.”
Aku memenuhi harapannya. Bergerak dengan penuh rasa nikmat dalam gerakan lambat saat aku ingin menusuknya yang terakhir kalinya dengan dalam, aku menahan diriku. Bola zakarku mengencang untuk pelepasan, penisku tumbuh lebih gemuk, aku harus melepaskan tali orgasme ini. Pemandangan dari kedua putriku bersama dengan Ayah mereka, perasaan keduanya yang membungkusku, mencintaiku, membuatku berakhir, tak bisa lagi kukendalikan. Perutku mulai mengencang.
“Sayang, Ayah keluar.” aku merasa spermaku bergerak dari dalam tubuhku bersiap untuk meledak dengan tiap tusukannya.
“Keluarlah di dalamku, Ayah. Campurkan dengan milikku.” Aku sudah menunggu terlalu lama. Kontraksi putriku di sekitar batangku meledakkan sperma dari penisku.
“Brengsek,” aku mengumpat dalam hati saat aku tetap memompa anak gadisku, mataku terpejam tak menghiraukan dunia ini.
Sebelum sperma terakhirku habis, aku merasa seseorang memegang lengan tanganku. Itu adalah Endang. Dia berlutut menuju ke pantat adiknya dan menarikku ke luar. Erna berpaling dengan kelelahan yang terlukis pada wajahnya dan tersenyum saat kakaknya berkata..
“Aku ingin mencium suamiku dengan rasa dari dua orang yang paling kucintai di dalam mulutku. Adik dan Ayahku tersayang.”
Lalu aku menutup mataku dan merasakan mulut indah lembutnya, memeras sperma terakhir keluar dari tubuhku.
Cerita Dewasa Terbaru 2013 ; Kenikmatan Saat Pernikahan Putriku tercinta
Dalam usianya yang ke-dua puluh satu tahun, muda dan keras kepala, saat menceritakan padaku kalau dia akan menikah, aku terdiam merasa kecewa dan terguncang, tapi aku menyembunyikannya dengan mendoakannya keberuntungan yang terbaik dan sebuah kehidupan yang selalu bahagia. Suara yang lain tidak aku kenal dan kutebak kalau itu adalah suara para pengiring pengantin, gugup dalam kebahagiaan mereka untuk yang lain, barangkali menantikan hari mereka sendiri.
Kurapikan dasi kupu-kupuku dengan bercermin di gang, aku melihat bayangan diriku dalam cermin, mengerutkan dahi merasa tak nyaman memakai pakaian resmi yang membatasi ini. Kuperhatikan diriku, rambutku masih terlihat hitam dan bersyukur karena kulihat bahwa sama sekali belum ada uban di usia empat puluh satu tahun ini. Wajahku terlihat keras karena tahun-tahun travellingku dan sering keluar masuk di lingkungan yang keras yang notabene penuh asap dan alkohol. Dan ketika aku mempelajari mata lelaki dalam cermin ini, aku mendapatkan gambaran akan kehidupan yang menghantarku hingga di sini. Aku jumpa Wati istriku saat kami berdua masih terlalu muda untuk membedakan mana yang baik, dan dia meyakinkanku si pemain gitar ini bahwa kami berdua akan bisa menaklukkan kerasnya dunia.
Dia adalah lulusan sebuah perguruan tinggi dengan pekerjaan tetap dan aku adalah seorang lelaki yang pergi bertualang dari kota satu ke kota lainnya berkeliling negeri ini. Anak-anak gadis kami lahir di awal perkawinan, yang membuat kami masih bertahan bersama sekitar lima tahun lamanya hingga akhirnya kami berdua menyadari bahwa hubungan ini sudah tak dapat dipertahankan lagi. Dia bertemu dengan seorang pria lain yang mempunyai sebuah kehidupan yang stabil, yang menurutnya akan lebih baik untuk kehidupan kedua putri kami.
Perceraian datang dan terjadi seperti perkiraan kami dan aku masih menetap di dekat mereka selama beberapa tahun sampai memperoleh sebuah lompatan besar sebagai pemusik studio di ibu kota. Sejak saat itu, aku mencoba yang terbaik agar tetap bisa berhubungan melalui telepon, lewat kiriman foto, dan tour keliling yang sekali-kali singgah di dekat situ. Dan saat aku menatap dalam kaca, aku melihat sebuah penyesalan yang terpancar ke luar.
“Ayah, apa yang Ayah lakukan?”
Aku kembali pada kesadaranku oleh suara putriku, Erna. Dia terlihat cantik bahkan di saat memakai baju pengiring pengantinnya yang menggelikan itu. Kulitnya yang kuning langsat dan rambutnya yang hitam pekat terlihat kontras dibandingkan dengan warna metalik dari pakaian itu. Dia tersenyum dalam kecantikannya yang lugu dan menatapku dengan bingung.
“Hanya mengenang masa lalu,” kataku.
“Saat seperti ini membuat kamu berpikir kalau kamu telah membuat keputusan yang salah. Bagaimana itu mempengaruhi hidup orang lain.” Dia menghiburku dengan pelukan dan mengusap bahu dan punggung lenganku.
“Ayah lakukan apa yang harus Ayah lakukan,” dia berkata.
“Aku tidak memusuhi Ayah. Aku akan melakukan hal yang sama bila berada dalam posisi tersebut. Aku akan lebih memilih pengalaman hidup dari pada mengambil keputusan seperti yang diambil Ibu.”
Pijatannya yang lembut menenangkan keteganganku, dan saat aku telah menjadi lebih santai aku sadari betapa aku menikmati dadanya yang menekan tubuhku. Dengan tinggiku yang sekitar dua belas centimeter lebih tinggi daripada Erna, aku menggerakkan tanganku dari punggungnya yang kecil naik ke bahunya yang telanjang dan menekannya agar merapat padaku. Dia membalas memelukku erat dan tersenyum dengan tidak berdosa. Kutundukkan kepalaku, dan memberinya sebuah ciuman ringan di atas dahinya, tetapi dia malah berjinjit pada jari kakinya dan dengan cepat menemukan bibirku.
“O-o.., sebaiknya Ibu tidak melihat. Dia mungkin akan cemburu. Atau Endang, mungkin.” dia tertawa genit. Aku tersenyum pada kelakarnya dan ketika dia berjalan sepanjang aula, aku tidak bisa mempercayai reaksinya pada perlakuanku yang dengan pelan memukul pantatnya.
“Mungkin nanti, Ayah bisa mencobanya saat aku tidak memakai pakaian gembung ini.”
Gaunnya turun hingga ke bawah lututnya dan itu terlihat indah, kaki-kaki itu laksana sebuah magnet yang membuat mataku lengket selalu menatapnya saat menggerakkan keindahan ini, saat wanita muda itu melenggang pergi. Aku membayangkan pantat yang manis dan kencang yang dia miliki. Aku juga membayangkan seperti apa rasanya pantat itu di dalam tanganku ketika dia menungganginya naik turun pada penisku, meneriakkan dengan histeris, “Setubuhi aku, Ayah. Setubuhi putri kecilmu. Masukkan penismu dalam vagina panas putrimu.” Saat kepergok sedang memandangi dan mengkhayalkannya, aku melihat ke arah putriku yang menengok ke belakang. Dia tersenyum dan menggelengkan kepalanya saat dia berbelok di ujung gang itu.
Kembali ke kenyataan, aku akan mengetuk pada pintu di mana pengantin wanita sedang bersiap-siap ketika mantan istriku Wati membuka pintu itu dan keluar.
“Rudi, kita harus bicara.” dia berkata dalam sebuah nada yang memperingatkan. Aku bergeser dari pintu untuk memberinya ruang.
“Endang ingin agar Anton yang berjalan di sepanjang karpet itu. Sekarang, kamu benar-benar tidak punya alasan untuk mengganggunya.”
“Aku tidak peduli,” aku menjawab deklarasinya. Aku merasa terluka, tapi rasa bersalahku akan kehidupanku berkata bahwa ini adalah konsekwensi dari keputusan hidupku yang lain.
“Aku harap aku bisa bicara dengannya sebelum upacara,” kulirik arlojiku. Masih ada waktu satu jam.
“Aku ingin meluruskan beberapa hal. Ingin mendoakan keberuntungannya. Hal-hal seperti itulah.”
“Itu bukan ide yang baik,” kata Wati.
“Dia sedang bingung dengan siapa dia akan berjalan di karpet itu nanti. Dia terlalu emosional dan gelisah sekarang. Aku bilang padanya bahwa dia sudah membuat keputusan yang benar dan kamu akan memahami itu.”
Aku tidak ingin membuat masalah, dan aku bisa lihat aku tidak akan berusaha melewati sang penjaga pintu, maka kuanggukkan kepalaku dan berbalik. Aku berjalan ke dalam ruangan di mana sang pendeta sedang bersiap-siap dan berbicara dengannya untuk beberapa menit sebelum dia pergi untuk meyakinkan para pelayan altar agar tahu apa yang harus mereka lakukan. Dia berkata bahwa aku boleh tetap berada di sini jika aku ingin, kuambil tawarannya dan duduk pada sofa kulitnya menghadap jendela dan melihat orang-orang yang memakai setelan jas resmi dan gaun pesta ke dalam gereja. Pintu terbuka dan menutup di belakangku. Mengira kalau yang masuk adalah sang pendeta, aku berdiri dan bertanya..
“Apa pekerjaan mereka beres?”
“Beres?” tanya Erna.
“Ah. Aku pikir kamu si pendeta.” dia tertawa.
Erna menggantikan tempatku di sofa ketika aku berjalan di sekitar jendela dengan membayangkan hubungan seks sedarah kami. Kakinya bertumpu pada meja kopi di depan sofa menekuk lututnya saat dia mengayunkannya maju mundur, membuka dan menutup. Gaunnya yang mulai tersingkap ke atas pahanya yang memperlihatkan lebih banyak bagian dari paha dalamnya. Gaunnya tersingkap hingga di atas lututnya, suaranya menggesek maju mundur menyelimuti detak jantungku yang terus meningkat. Aku berjalan semakin dekat untuk senyuman lezat yang ingin kucicipi itu tetapi sadar kalau aku tidak bisa melakukannya.
Putriku yang berumur sembilan belas tahun itu sedang menggodaku. Aku sering melihat ‘groupies’ untuk mengetahui tentang apa arti dari godaan, tetapi groupies lebih blak-blakan. Semua orang tahu apa yang mereka inginkan. Ada sesuatu yang disembunyikan di sini, kami berdua tahu apa yang akan terjadi. Aku yakin kami berdua bukanlah orang ’suci’. Tapi godaan ini tak akan berakibat apa pun. Tidak ada apa pun yang bisa. Itu salah. Kami tidak bisa membiarkan sesuatu itu terjadi. Sesuatu yang bersifat seksual.
Dia membuka kakinya lebih lebar, seperti sebuah undangan agar datang menikmatinya. Gaunnya bergerak lebih tinggi dan aku menangkap sebuah pandangan sekilas dari sabuk stocking yang membungkus di sekitar paha indahnya. Erna menurunkan kakinya ke lantai dan aku takut kalau aku akan menerkamnya, aku telah berbuat keterlaluan dengan nafsu pada keindahan pahanya. Paha yang aku inginkan untuk melingkari tubuhku, yang kutelusuri dengan tanganku. Tetapi dia masih tersenyum saat aku memandangnya, memainkan pikiranku. Dia ingin agar aku duduk pada meja di depannya dan aku melakukannya, tidak ingin mengecewakan wanita muda ini.
“Tetaplah di sini,” dia berkata.
Aku mematuhi dan menutup wajahku dengan tangan, berusaha meredakan pikiranku yang penuh gairah. Aku ingin kehangatan dari seorang wanita, dan aku ingin merasakan kehangatan itu pada penisku. Aku ingin dadanya di tanganku, pahanya bergesekan dengan milikku. Aku menginginkan perhatian dan cintanya. Itu salah, atau kira-kira itulah yang mereka katakan, untuk bernafsu pada wanita yang aku inginkan. Tetapi melihatnya mengayunkan paha, menggesekkan ke depan dan ke belakang, membayangkan itu adalah vaginanya yang menggesek, menelan penisku, merintih dengan penuh gairah ketika aku memompa keluar masuk tubuhnya, aku telah sampai di garis tepi itu.
Tanganku menutupi wajahku, pikiranku menjadi liar. Aku mendengar suara pintu di seberang ruangan ditutup di belakangku yang diikuti oleh suara mengunci pintu itu. Sepertinya ada dua orang di sana. Aku mengintip dari tanganku dan melihat seorang pengantin wanita yang paling cantik dalam hidupku. Tingginya yang sama dengan adiknya, dia mempunyai sebuah wajah yang sama cantiknya dan bentuk tubuh sempurna yang tak berbeda. Jika rambutnya tidak lebih panjang, pasti akan sulit untuk membedakan mereka. Aku berdiri, penisku masih keras tapi tersembunyi oleh pakaian resmi yang kupakai. Malu dengan pemikiranku akan Erna, aku mendekati Endang yang mengenakan gaun pengantin anggun, menggairahkan.
“Sayang, kamu cantik sekali,” kataku.
Paha Endang yang terlihat menyembul dari balik gaun putihnya hampir membuatku meledak di dalam celana dalamku. Jasku sedang dibuka oleh seseorang di belakangku. Aku menoleh dan menemukan Erna. Keinginan yang penuh gairah kembali lagi. Endang tersenyum pada Erna dan melihat mata Endang, aku tahu putri bungsuku pasti tersenyum juga. Aku mulai untuk mencoba katakan sesuatu, tapi Endang memotong..
“Ayah,” dia berkata.
“Ayah yang manis, lembut..”, katanya lagi.
Dia bergerak semakin dekat kepadaku seiring kurasa tangan Erna mengelus lenganku kemudian menyeberang ke dadaku. Aku pikir aku sedang bermimpi dan aku ingin terbangun agar aku bisa segera melakukan masturbasi dan mengeluarkan bayangan ini dari pikiranku. Tapi ini bukan sebuah mimpi.
“Aku tahu Ayah merasa bahwa sepertinya Ayah sudah menelantarkan kami. Tapi, kami tahu bahwa Ayah sudah mencoba yang terbaik. Kami tahu bahwa Ibu saja yang sulit menerimanya.”
“Kami mencintai Ayah. Waktu yang pernah kita lewati bersama sangat berharga.” Erna menambahkan ketika dia tetap membelai dadaku, kemudian dia dengan lembutnya mencium leherku. Nafasnya yang halus menggetarkan tubuhku.
“Sebenarnya, kami sangat menginginkan Ayah,” kata Endang saat dia telah dengan sepenuhnya merapat.
“Ini adalah khayalanku,” katanya sebelum dengan singkat mencicipi bibirku.
Tanganku bergerak ke bawah gaun pengantinnya, meluncur di atas kedua pahanya. Dagingnya yang halus tidak mengenakan stocking. Saat tangan kiriku mencapai kelembabannya, rambut kemaluannya, aku tahu dia ingin disetubuhi. Penisku semakin keras saat lidah bernafsu Endang menjadi lebih agresif dan mengatakan padaku bahwa penis Ayahnya inilah yang dia inginkan di dalam vaginanya.
“Katakan pada Ayah betapa kamu sangat menginginkan dia, Endang.”
Erna sudah pindah dari belakangku ke belakang Endang. Saat aku sedang mengelus paha Endang dengan satu tangan dan menggoda bibir vaginanya dengan jari dari tangan yang lainnya, Erna sedang mengelus dada kakaknya dan mencium lehernya dan memegangi telinganya. Kemudian aku merasa tangan Erna bergabung dengan tanganku dalam merasakan vagina kakaknya yang basah.
“Ohh, ya, Ayah,” erang Endang lirih. Celana dalamku terlepas dan putriku mendapatkan penisku di dalam genggaman tangannya. Dia menyeka beberapa precum dengan jarinya dan menghisapnya ke dalam mulutnya sebelum menarikku kembali dalam sebuah ciuman.
“Aku ingin Ayah menyetubuhiku, Ayah. Setubuhi gadis kecilmu yang nakal ini.”
Vagina Endang yang panas adalah hal terbaik yang pernah dirasakan jariku, dan saat dia menjauh, mereka dibuatnya sedih. Tetapi dia lalu duduk di atas sofa, lutut ditekuk dan kaki mengangkang terbuka, seperti yang dilakukan Erna sebelumnya. Dia menyingkap gaunnya hingga dapat kulihat gundukan dagingnya yang menggairahkan di bawah gaun pengantinnya. Erna memanfaatkan kesempatan yang ditinggalkan kakaknya untuk berlutut dan mengambil penis kerasku ke dalam mulut mudanya. Aku membungkukkan kepalaku dan membelai rambutnya saat dia menghisap batang tebalku. Melalui mataku yang hampir terpejam, aku bisa melihat Endang yang memainkan kelentitnya, menjilat sari buahnya.
Endang tidak bisa membendungnya lagi, dan tak pasti berapa lama hisapan adiknya yang sempurna ini sanggup kuhadapi, sebab dia perintahkan padaku agar datang padanya.
“Kemarilah dan setubuhi aku, Ayah. Aku ingin penis besar Ayah di dalam vagina panasku sekarang. Aku ingin kita keluar bersama.”
Erna mendengar rintihan kakaknya dan melepaskanku dari genggamannya, mendekat ke Endang. Kedua putriku mulai saling mencium, Erna memberi kakak kandungnya sebuah rasa dari apa yang akan segera dialami vaginanya. Aku bergerak di antara paha Endang, meluncurkan tanganku pada daging yang paling berharga yang kutahu, putriku.
“Ohh, Sayang. Kamu sangat indah. Ayah tidak bisa mencegahnya. Penisku terasa sakit karena kamu.” Aku mengagumi kecantikan dan keindahannya dan mendekatkan wajahku pada vagina basahnya. Sari buahnya sangat merangsang dan lidahku melingkari bibirnya, mengambil cintanya di dalamnya.
“Ohh, Ayah,” desahnya saat aku menyisipkan lidahku sedalam-dalamnya, kemudian menarik keluar dan mencicipi daging yang melingkupi kelentitnya.
“Aku sangat ingin Ayah menyetubuhiku.”
Penisku tidak bisa kutahan lagi. Aku harus merasakan kehangatan putriku pada penisku. Aku bangkit dengan perasaan yang sangat bersemangat mendapatkan seorang wanita muda yang dengan sepenuhnya mengharapkanmu dalam hidupnya dan melihat Erna yang sedang menghisap puting susu kakaknya. Kupegang penisku mengarah ke daging basah Endang yang membuka, merasakan darahku terpompa di bawah jariku. Pelan-pelan kuselipkan dalam sebuah dorongan pendek, kehangatannya terasa berlimpah saat aku mempertimbangkan konsekwensi tindakan terlarang ini. Aku menginginkan wanita muda ini, putri kandungku sendiri.
Endang melingkarkan kakinya di punggungku, seolah-olah merasakan keraguanku, dan menarikku dengan penuh ke dalamnya.
“Kumohon, setubuhi aku. Ohh Tuhan, penis besar Ayah terasa hebat. Keluarlah di dalamku, Ayah. Aku ingin merasakan sperma Ayah menetes ke kakiku saat aku katakan janjiku di depan pendeta.”
“Ohh, sayang. Vaginamu sangat panas dan ketat di penis besar Ayah. Ini adalah vagina terbaik yang pernah kurasakan. Ayah ingin menyetubuhi kedua putriku melebihi apa pun di dunia ini.” aku memompanya dengan penuh cinta, tetapi perasaan ini tumbuh terlalu liar untuk dikendalikan.
“Katakan kamu ingin Ayahmu bagaimana, Sayang.”
“Ohh Tuhan. Aku keluar Ayah. Keluarlah bersamaku.” pinggulnya menusukkan vaginanya lebih ke dalam penisku.
“Setubuhi putrimu lebih keras,” Erna memerintahkan.
Aku memandang dari nafsu kusamku untuk melihat kedua anak gadisku saling melilitkan lidahnya dalam mulut mereka satu sama lain.
“Vaginamu sangat nikmat di penis kerasku, sayang. Ayah akan keluar. Aku mencintaimu sayang.”
Lalu, kedua tubuh kami meledak dalam sebuah orgasme yang tak terkendalikan. Gelombang demi gelombang spermaku kupompa ke dalam putriku, vaginanya memijat keluar tiap-tiap tetesan akhir, kakinya menekan pantatku merapat kepadanya. Kemudian penisku mengecil di dalam vagina Endang, dan aku memberinya sebuah ciuman penuh kasih.
“Aku mencintaimu, Endang. Akan kulakukan apa pun untukmu. Untuk kalian berdua.”
“Itu bagus,” kata Erna saat dia melangkah keluar dari pakaian pengiring pengantinnya, bra hitamnya dan sepatu bertumit tinggi yang dia kenakan, sangat cocok padanya.
“Sebab aku mulai cemburu melihat penis besar Ayah di dalam vagina Kakak.” dia menggantikan posisiku di antara kaki kakaknya ketika aku bergeser ke samping.
Putri-putriku yang nakal mulai saling berciuman dan aku memindahkan meja menjauh agar aku dapat berdiri di belakang Erna. Endang melepaskan bra adiknya yang memberi efek langsung pada penisku yang mengeras, tetapi itu masih belum sepenuhnya siap benar. Tanganku mengelus pinggul Erna ketika aku menggosokkan penisku pada pantat dan sela pahanya. Aku merasa dia akan bangkit, maka kuberi ruang padanya saat aku menyadari bahwa dia sedang turun pada kakaknya.
Mata Endang terpejam, tapi aku bisa melihat kesenangan yang murni pada wajahnya ketika adiknya mencicipi campuran dari orgasme adik dan ayahnya. Erna telah siap untuk disetubuhi. Dia membentangkan kakinya terpisah dan dengan sepatunya yang bertumit tinggi dan kepalanya turun pada kakaknya, pantatnya bergoyang dengan sempurna. Aku harus mencicipinya dulu. Maka aku turun ke atas lantai di antara kakinya, dan mengangkat kepalaku ke atas, mulai menjilati vagina basahnya. Dia membantuku dengan satu jarinya yang menggosok kelentitnya ketika aku menjilat ke dalam bibir vaginanya.
Rintihannya mengirimku ke garis tepi itu. Kami semua tidak mampu membendungnya lagi. Aku bangkit di belakangnya dengan tanganku memegangi pinggulnya, masih mengayun dan kakinya lebih jauh terpentang, lidahnya masih memberi kenikmatan pada kakaknya lebih lagi. Aku menatap pahanya, ditopang oleh tumitnya, dan teringat dia saat berjalan di sepanjang aula itu. Dengan memejamkan mata, aku menarik kami bersama, penis gemukku menekan jauh ke dalam vaginanya yang hangat dan basah.
“Ohh, Erna.” aku mengerang dalam masing-masing ayunanku yang lembut.
“Sayang, kamu sangat seksi.” tanganku meremas pantat dan pinggulnya yang bergerak seiring ayunanku.
“Melihatmu mengoral kakakmu membuat Ayah akan keluar lagi.”
“Ayah, penis besar Ayah terasa sangat nikmat bergerak keluar masuk. Pelanlah agar kita dapat keluar bersama.”
Aku memenuhi harapannya. Bergerak dengan penuh rasa nikmat dalam gerakan lambat saat aku ingin menusuknya yang terakhir kalinya dengan dalam, aku menahan diriku. Bola zakarku mengencang untuk pelepasan, penisku tumbuh lebih gemuk, aku harus melepaskan tali orgasme ini. Pemandangan dari kedua putriku bersama dengan Ayah mereka, perasaan keduanya yang membungkusku, mencintaiku, membuatku berakhir, tak bisa lagi kukendalikan. Perutku mulai mengencang.
“Sayang, Ayah keluar.” aku merasa spermaku bergerak dari dalam tubuhku bersiap untuk meledak dengan tiap tusukannya.
“Keluarlah di dalamku, Ayah. Campurkan dengan milikku.” Aku sudah menunggu terlalu lama. Kontraksi putriku di sekitar batangku meledakkan sperma dari penisku.
“Brengsek,” aku mengumpat dalam hati saat aku tetap memompa anak gadisku, mataku terpejam tak menghiraukan dunia ini.
Sebelum sperma terakhirku habis, aku merasa seseorang memegang lengan tanganku. Itu adalah Endang. Dia berlutut menuju ke pantat adiknya dan menarikku ke luar. Erna berpaling dengan kelelahan yang terlukis pada wajahnya dan tersenyum saat kakaknya berkata..
“Aku ingin mencium suamiku dengan rasa dari dua orang yang paling kucintai di dalam mulutku. Adik dan Ayahku tersayang.”
Lalu aku menutup mataku dan merasakan mulut indah lembutnya, memeras sperma terakhir keluar dari tubuhku.
Cerita Dewasa Terbaru 2013 ; Kenikmatan Saat Pernikahan Putriku tercinta
Cerita Sex Sedarah
Langganan:
Postingan (Atom)


Recent Comments